• “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 5) Read more
  • Syukurmu, Untuk Kemaslahatanmu

    “Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, "Bersyukurlah kepada Allah! Dan barang siapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Lukman ayat 12)” Read more
  • Kehendak

    “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS.ar-Ra’d:11) Read more
  • Berkah Syukur

    ““Dan ingatlah tatkala Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, Kami pasti akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku maka sesungguhnya adzab-Ku amatlah pedih’.” (QS. Ibrohim: 7) Read more
  • Kehendak

    “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS.ar-Ra’d:11) Read more
  • Jangan Berputus Asa

    “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah swt. Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’alamengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS. Az Zumar: 53-54).Read more
Tampilkan postingan dengan label Psikologi Quran. Tampilkan semua postingan

Menakjubkan! Inilah Perbedaan Makna antara Surat Al-Falaq dan An-Nas


Surat Al-Falaq dan An-Nas berada pada urutan terakhir dalam Al-Qur’an. Keduanya disebut Muawwidzatain, yaitu surat untuk meminta perlindungan kepada Allah swt. Walaupun memiliki makna yang sama, namun keduanya memiliki perbedaan. Dimanakah letak perbedaannya?

Surat Al-Falaq adalah memohon perlindungan dari keburukan yang berada di luar manusia. Seperti malam ketika gelap dan bulan ketika menghilang. Kedua waktu ini adalah waktu yang dianggap banyak kejahatan dan penyihir. Karena biasanya mereka melakukan kejahatan sihir dan hasud itu di waktu malam.

Sementara Surat An-Nas adalah permohonan perlindungan dari keburukan yang ada di dalam diri manusia. Seperti bisikan setan dan Nafs Al-Ammaroh Bissu’, jiwa yang selalu memerintahkan keburukan.

Keburukan di dalam diri manusia lebih dahsyat dari keburukan yang berasal dari luar. Mungkin kita bisa menjauh dari keburukan luar namun kita tidak akan pernah terlepas dari bisikan keburukan dari dalam diri kita.

Karena itu, kita meminta perlindungan satu kali dalam Surat Al-Falaq dan tiga kali dalam Surat An-Nas.

Dalam Surat Al-Falaq kita membaca, قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ  Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan yang Menguasai subuh (fajar)”. Lalu kita langsung menyebutkan keburukan yang hendak kita hindari.

مِن شَرِّ مَا خَلَقَ -٢- وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ -٣- وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ -٤- وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ -٥-

“Dari kejahatan (makhluk yang) Dia Ciptakan, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan (perempuan-perempuan) penyihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya), dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.”
(Al-Falaq 2-5)

Dan pada Surat An-Nas kita membaca, قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ -١- مَلِكِ النَّاسِ -٢- إِلَهِ النَّاسِ -٣- (Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan-nya manusia, Raja manusia, sembahan manusia). Baru setelah itu kita sebutkan kejahatan yang ingin kita hindari.

مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ -٤- الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ -٥- مِنَ الْجِنَّةِ وَ النَّاسِ -٦-

“Dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.”
(An-Nas 4-6)

Dan barangsiapa yang membaca Muawwidzatain ini maka dia akan terjaga dari semua kejahatan dalam dan luar dengan izin Allah swt.

[Khazanahalquran.com]

Satu Kalimat Untuk Semua Masalah


Sebagai lanjutan dari artikel yang lalu, manusia telah diberi bermacam bekal oleh Allah swt. Salah satunya adalah satu kalimat yang mampu menyelesaikan berbagai masalah.

Ketika engkau didzalimi, maka ucapkan

 حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

“Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.” (QS.Ali ‘Imran:173)

Ketika engkau diuji, maka ucapkan

حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

Ketika engkau tak menemukan jalan dan kehidupan terasa begitu gersang, sementara tak seorang pun yang menemanimu, maka ucapkan

حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

Ketika engkau tidak bersalah tapi tak mampu mengungkap yang sebenarnya, maka ucapkan

حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

Ketika orang-orang bersatu untuk menyalahkanmu maka ucapkan,

حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

Ketika engkau tak menemukan  pintu dari masalahmu, maka ucapkan

حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

Ketika masalah tak kunjung selesai dan menjadi semakin rumit, maka ucapkan

حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

Ketika engkau sulit sekali untuk memahami sesuatu maka ucapkan

حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

Dan ketika Allah menyelesaikan masalahmu, memberi jalan kepadamu, menghilangkan keterasinganmu dan membuka pintu rezeki untukmu maka bersyukurlah ! Karena Allah telah memberi kita sebuah bekal berupa kalimat yang singkat tapi mampu menyelesaikan masalah yang besar.

[Sumber: Khazanahalquran.com]

“Cukuplah Allah bagi Kami !”


Allah swt berfirman,

وَلَوْ أَنَّهُمْ رَضُوا مَا آتَاهُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ سَيُؤْتِينَا اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَرَسُولُهُ إِنَّا إِلَى اللَّهِ رَاغِبُونَ

Dan sekiranya mereka benar-benar ridha dengan apa yang diberikan kepada mereka oleh Allah dan Rasul-Nya, dan berkata, “Cukuplah Allah bagi kami, Allah dan Rasul-Nya akan memberikan kepada kami sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya kami orang-orang yang berharap kepada Allah.” (QS.At-Taubah:59)

Ayat ini mengajarkan kepada kita untuk tenang dalam menjalani hidup. Tak perlu takut dan khawatir dengan apa yang akan terjadi di hari esok.

Sebagaimana kita yakin besok matahari akan terbit dari timur, kita juga harus yakin bahwa “Cukuplah Allah bagi kami…” Allah pasti akan memberikan sesuatu yang telah Dia siapkan untuk kita.

Kalimat حَسْبُنَا الله (Cukuplah Allah bagi kami) seringkali disebutkan dalam Al-Qur’an, baik dengan kalimat حَسْبُنَا / حَسْبُكَ / حَسْبِي. Yang mana Rasulullah saw diperintahkan untuk mengucapkan kalimat ini dalam momen-momen tertentu seperti,

1. Ketika orang-orang berpaling dari Rasulullah saw, Allah memerintahkan beliau untuk mengucapkan,

فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ۖ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

Maka jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah (Muhammad), “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy (singgasana) yang agung.” (QS.At-Taubah:129)

2. Ketika mereka ingin mengkhianati Nabi Muhammad saw.

Seperti dalam firman-Nya,

وَإِنْ يُرِيدُوا أَنْ يَخْدَعُوكَ فَإِنَّ حَسْبَكَ اللَّهُ ۚ هُوَ الَّذِي أَيَّدَكَ بِنَصْرِهِ وَبِالْمُؤْمِنِينَ

Dan jika mereka hendak menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindung) bagimu. Dialah yang memberikan kekuatan kepadamu dengan pertolongan-Nya dan dengan (dukungan) orang-orang mukmin, (QS.Al-Anfal:62)

3. Dalam ayat lainnya Allah berfirman kepada Nabi Muhammad saw,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَسْبُكَ اللَّهُ وَمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

Wahai Nabi (Muhammad)! Cukuplah Allah (menjadi pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu. (QS.Al-Anfal:64)

Begitu juga ketika kaum mukminin ditakut-takuti akan banyaknya musuh, mereka hanya berkata,

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang ketika ada orang-orang mengatakan kepadanya, “Orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,” ternyata (ucapan) itu menambah (kuat) iman mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.” (QS.Ali ‘Imran:173)

Bahkan ayat berikutnya menunjukkan bahwa  kepasrahan dan keimanan menjadikan mereka memperoleh kenikmatan dan anugerah-Nya serta dijauhkan dari kekalahan.

Ayat ini mengajarkan bahwa ketika kita diancam, diteror diboikot atau didzalimi, jangan pernah putus asa karena kita sedang bersama Allah swt. Katakan “Cukuplah Allah bagi kami…”

Katakanlah kepada yang menakuti… “Cukuplah Allah bagi kami…”

Katakanlah kepada yang mengancam… “Cukuplah Allah bagi kami…”

Katakanlah kepada yang memboikot… “Cukuplah Allah bagi kami…”

Karena yang bersama Allah pasti akan selamat. Ingatlah bahwa api tidak dapat membakar Ibrahim karena beliau sedang bersama Allah. Perut ikan tidak dapat menghancurkan tubuh Yunus karena beliau sedang bersama Allah. Lautan tidak mampu menenggelamkan Musa karena beliau sedang bersama Allah.

Maka apapun yang mereka katakan, jawablah dengan penuh keyakinan bahwa “Cukuplah Allah bagi kami, dan Dia lah sebaik-baik pelindung.”

حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

[Sumber: Khazanahalquran.com]

3 Sumber Kesalahan


Segala sesuatu pasti ada asal dan sumbernya. Dan kali ini kita akan membuka satu pertanyaan, bagaimana seseorang bisa berbuat salah? Darimana sumber awalnya?

Jika kita menengok pada ayat-ayat Al-Qur’an, setidaknya ada tiga sumber utama dari kesalahan manusia, yaitu:

1. Melangkah berdasarkan prasangka (keraguan), bukan keyakinan (hal-hal yang ia ketahui dengan pasti).

Kesalahan terjadi karena kita tidak tahu pasti dengan sesuatu yang kita pilih, atau dengan langkah yang kita ambil. Andai manusia memilih atau melangkah berdasarkan “hal-hal yang ia ketahui dengan pasti” dan tidak memberi ruang pada “sesuatu yang masih diragukannya”, maka ia tidak akan pernah terjerumus dalam kesalahan.

Begitu banyak ketergelinciran terjadi karena kita melangkah dengan keraguan. Sementara kita belum mengerti benar medan yang akan kita tempuh.

Allah swt berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa.” (QS.Al-Hujurat:12)

Dalam ayat lainnya Allah berfirman,

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

“Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanya persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan.” (QS.Al-An’am:116)

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui.” (QS.Al-Isra’:36)

2. Taklid buta.

Sebagian orang meyakini bahwa kebenaran adalah sesuatu yang diterima atau diyakini oleh mayoritas. Atau bahkan sesuatu yang diyakini oleh orang-orang terdahulu akan diterima oleh generasi selanjutnya (seperti mitos-mitos dan keyakinan yang berkembang selama ini.)

Sementara logika Al-Qur’an memiliki pandangan yang berbeda, bahwa kita harus menimbang segala sesuatu dengan akal. Bukan dengan bertaklid buta dengan pendapat nenek moyang, tokoh atau mayoritas masyarakat. Jadikan akal sebagai penentu, apakah suatu pandangan akan kita terima atau kita tolak.

Allah swt berfirman,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۗ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah.” Mereka menjawab, “(Tidak!) Kami mengikuti apa yang kami dapati pada nenek moyang kami (melakukannya).” Padahal, nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa pun, dan tidak mendapat petunjuk. (QS.Al-Baqarah:170)

Al-Qur’an menjelaskan bahwa lama atau tidaknya sebuah pemikiran tidak serta merta menjadikannya tolak ukur benar atau salahnya. Sementara kelalaian dan taklid buta adalah penyebab manusia menyimpang dari fitrahnya. Seperti yang disebutkan dalam surat Al-A’raf 172-173.

3. Mengikuti Hawa Nafsu.

Al-Qur’an sering sekali mengingatkan sumber kesalahan yang ketiga ini. Yaitu mengikuti hawa nafsu dan pengaruh-pengaruh yang menyesatkan.

إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ

Mereka hanya mengikuti dugaan, dan apa yang diinginkan oleh keinginannya. (QS.an-Najm:23)

Itulah tiga sumber kesalahan menurut Al-Qur’an, tentu masih banyak ayat-ayat lain yang menjelaskan sumber kesalahan manusia. Semoga kajian singkat ini dapat menjadi pegangan kita untuk dapat berhati-hati dalam memilih dan melangkah.

[khazanahalquran.com ]