• “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 5) Read more
  • Syukurmu, Untuk Kemaslahatanmu

    “Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, "Bersyukurlah kepada Allah! Dan barang siapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Lukman ayat 12)” Read more
  • Kehendak

    “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS.ar-Ra’d:11) Read more
  • Berkah Syukur

    ““Dan ingatlah tatkala Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, Kami pasti akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku maka sesungguhnya adzab-Ku amatlah pedih’.” (QS. Ibrohim: 7) Read more
  • Kehendak

    “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS.ar-Ra’d:11) Read more
  • Jangan Berputus Asa

    “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah swt. Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’alamengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS. Az Zumar: 53-54).Read more
Tampilkan postingan dengan label Close to Quran. Tampilkan semua postingan

5 Langkah Mendapatkan Syafaat al-Quran


Al-quran sebagai kalam Allah bisa memberi pertolongan dalam bentuk syafaat atas izin Allah. Al-quran bisa menjadi perantara untuk menolong kita ketika kita mempertanggung jawabkan amalan kita di hadapan Allah Ta’ala.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam telah bersabda di dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.

اقرأوا الْقُرْآن فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْم الْقِيَامَة شَفِيعًا لأَصْحَابه  (رواه مسلم)

“Bacalah Al-Quran, kelak ia akan datang di Hari Kiamat memberi syafaat kepada para pembacanya.” (HR. Muslim).

Juga disebutkan di dalam hadits yang lain;

Bacalah al-Zahrawain (dua cahaya) yaitu surat Al-Baqarah dan Ali ‘Imran karena keduanya datang pada hari kiamat nanti seperti dua awan atau seperti dua cahaya sinar matahari atau seperti dua ekor burung yang membentangkan sayapnya, keduanya akan menjadi pembela bagi yang rajin membaca dua surat tersebut.” (HR. Muslim: 1910).

Lalu bagaimana caranya supaya kita bisa mendapatkan syafaat tersebut?
Ada beberapa hal yang mesti kita ketahui sekaligus kita lakukan dalam interaksi kita bersama al-quran, sehingga kita bisa mendapatkan syafaat al-quran.

Pertama, dengan membaca al-quran

Maka, sangat disayangkan apabila seorang muslim tidak bisa membaca Al-Quran. Sangat disayangkan pula, jika seorang muslim yang sudah pandai membaca Al-Quran namun tidak membiasakan dirinya dan keluarganya untuk istiqamah membacanya setiap hari.

Kedua, mendengarkan lantunan bacaan al-quran.

Selain bisa membaca, mendengarkan lantunan ayat-ayat suci Al-Quran juga menjadi jembatan meraih syafaatnya. Kita bisa mendengarkan secara langsung lewat radio, televisi, atau Mp3 murottal.

Sayangnya, banyak kaum muslimin yang lebih gandrung dengan alunan musik ketimbang ayat al-Quran.

Ketiga, Mengkaji dan Mempelajari Ayat-ayat Al-Quran.

Al-Quran tidak cukup hanya dibaca dan didengarkan. Lebih dari itu, kita harus menjadikannya sebagai sumber inspirasi di berbagai bidang kehidupan. Untuk bisa sampai ke arah tersebut, langkah yang harus kita tempuh adalah mengkaji hikmah-hikmah yang ada di dalamnya.
Keempat, Mengamalkan isi kandungan Al-Quran.

Al-quran berisi hukum-hukum yang jelas dan panduan bagi kehidupan seorang muslim. Maka setiap muslim wajib untuk menjadikan al-Quran rujukan hukum dan pedoman dalam menentukan baik dan benar dalam segala aspek kehidupan.

Lima, Mengajarkan Al-Quran kepada Orang lain.

Sudah menjadi kewajiban bagi setiap orang yang diberi ilmu oleh Allah untuk mengamalkan apa yang sudah ia peroleh, walau pun satu ayat. Termasuk mengajarkan Al-Quran dalam beragam bentuk seperti mengajarkan cara membaca yang baik dan benar, menguraikan makna dan kandungan ayat, atau menghimpun tafsir Al-Quran sebagai upaya mendekatkan umat kepada pemahaman terhadap Al-Quran yang baik, tidak menyimpang, tidak salah jalan, salah tafsir yang bisa menimbulkan keresahan kepada umat Islam.

Mengajarkan Al-Quran sesuai dengan bimbingan para ulama yang ahli di bidangnya, akan membuat umat semakin cinta terhadap Al-Quran dan mau mengamalkannya.

Itulah lima langkah untuk mendapatkan kesaksian yang meringankan dari al-Quran. Seperti halnya kesaksian dalam suatu pengadilan, ada saksi yang memberatkan dan ada pula saksi yang meringankan.

Tentunya kita tidak ingin menjadi sosok yang mendapat kesaksian yang tidak kita harapkan. Kita berharap semoga kitamendapat syafaat Al-Quran melalui lima langkah tersebut.


Bersiwak Sebelum Membaca al-Quran


Salah satu adab yang harus diperhatikan ketika hendak membaca al-quran adalah bersiwak atau menyikat gigi sebelum membacanya.

Perlu diketahui, bersiwak termasuk sunnah yang paling sering dan yang paling senang dilakukan oleh Rosulullah n adalah bersiwak. Siwak merupakan pekerjaan yang ringan namun memiliki faedah yang banyak baik bersifat keduniaan yaitu berupa kebersihan mulut, sehat dan putihnya gigi, menghilangkan bau mulut, dan lain-lain, maupun faedah-faedah yang bersifat akhirat, yaitu ittiba’ kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mendapatkan keridhoan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

السِّوَاكَ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِّ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ (رواه أحمد)

“Siwak merupakan kebersihan bagi mulut dan keridhaan bagi Rabb”. [Hadits shahih riwayat Ahmad]

Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu bersemangat melakukannya dan sangat ingin agar umatnya pun melakukan sebagaimana yang dia lakukan, hingga beliau bersabda.

لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلىَ أُمَّتِي لأَمَرْتُهُمْ باِلسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ وُضُوْءٍ

“Kalau bukan karena akan memberatkan umatku maka akan kuperintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan wudlu”. [Hadits riwayat Bukhari dan Muslim]

Berkaitan dengan anjuran bersiwak sebelum membaca al-quran, ada hadits Rasulullah shalallahu alaihi wa salam yang diriwayatkan al-bazaar,

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا تَسَوَّكَ ، ثُمَّ قَامَ يُصَلِّي قَامَ الْمَلَكُ خَلْفَهُ ، فَتَسَمَّعَ لِقِرَاءَتِهِ فَيَدْنُو مِنْهُ أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا حَتَّى يَضَعَ فَاهُ عَلَى فِيهِ فَمَا يَخْرُجُ مِنْ فِيهِ شَيْءٌ مِنَ الْقُرْآنِ ، إِلاَّ صَارَ فِي جَوْفِ الْمَلَكِ ، فَطَهِّرُوا أَفْوَاهَكُمْ لِلْقُرْآنِ

Sesungguhnya jika seorang hamba bersiwak, kemudian melakukan shalat, maka ada seorang malaikat yang berdiri di belakangnya untuk mendengarkan bacaannya. Malaikat itu akan mendekat kepadanya hingga meletakkan mulutnya pada mulut orang tersebut. Dan tidaklah keluar dari mulut orang tersebut berupa bacaan al-Qur‘an kecuali akan masuk ke dalam perut malaikat, maka bersihkanlah mulut kalian bila hendak membaca al-Qur‘an.”

Menurut Ibnu Daqiqil ‘Ied, Rahasia dianjurkannya bersiwak sebelum beribadah, terutama ketika hendak membaca al-quran dan shalat adalah bahwasanya kita diperintahkan agar dalam setiap keadaan ketika bertaqorrub kepada Allah, kita senantiasa dalam keadaan yang sempurna dan dalam keadaan bersih untuk menampakkan mulianya ibadah”.

Dikatakan bahwa perkara bersiwak ini berhubungan dengan malaikat karena mereka terganggu dengan bau yang tidak enak.  Hal ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari hadits Jabir Radhiyallahu ‘anhu.

مَنْ أَكَلَ الثَّوْمَ أَوِ الْبَصَالَ أَوِ الْكَرَّاثَ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا لأَنَّ الْمَلاَئِكَةَ تَتَأَذَّى مِمَّا يَتَأَذَّى بِهِ بَنُوْ آدَمَ

“Barang siapa yang makan bawang putih atau bawang merah atau bawang bakung maka janganlah dia mendekati mesjid kami. Sesungguhnya malaikat terganggu dengan apa-apa yang bani Adam terganggu dengannya”

Apakah Kita Termasuk Orang yang Mentadaburi Al-Qur`an?


Al-quran diturunkan untuk diambil pelajaran darinya, sehingga menjadi petunjuk dalam menjalani kehidupan, dan untuk mengenal mana yang baik dan mana yang buruk.

Adapun al-quran bisa dipahami dan diambil pelajaran darinya dengan jalan mentadaburi atau merenungi ayat-ayat-Nya. Mentadaburi al-quran adalah menelaah dan memahami maksud dari ayat al-Quran dengan lebih mendalam. Tidak sekedar  paham maknanya, tapi juga paham maksud dan kandungan dari makna ayat tersebut.

Dengan demikian mentadaburi Al-Qur`an itu pada asalnya setelah seseorang paham maknanya, atau dengan kata lain, ia paham tafsirnya, baru bisa merenungi berbagai pelajaran yang bisa diambil darinya.

Anjuran untuk mentadaburi ayat-ayat al-Quran tercantum di dalam Quran surat Muhammad ayat 24,

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
“Maka apakah mereka tidak merenungkan Al-Qur`an ataukah hati mereka terkunci?”

Dan di dalam Quran surat Shad ayat 29,

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
“Ini adalah sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka merenungkan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran (yang baik)”

Salah satu karakeristik orang yang beriman dan jujur dengan keimanannya adalah, hatinya selalu penuh dengan keimanan ketika dibacakan ayat-ayat Allah. Semakin ia merenunginya semakin dalam dan kokoh iman di hatinya.

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَٰذِهِ إِيمَانًا ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ
“Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata, ‘Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?’ Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira” (At-Taubah: 124).

Adapun orang yang  tidak mengambil pelajaran dan acuh dengan al-quran seperti orang yang tuli dan buta. Karena hakikatnya mereka tidak mempergunakan kedua panca indra tersebut untuk tujuan penciptaannya, yaitu menuju jalan kebaikan

وَالَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا

“Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta” (QS. Al-Furqan: 73).

Diantara tanda-tanda seseorang sudah terpaut dengan al-Quran adalah khusyuknya hati ketika berinteraksi dengan al-quran, menangis ketika membaca al-quran, merasa nikmat ketika membaca al-quran sehingga hatinya akan gundah ketika tidak membacanya diluar kebiasaan yang dia lakukan.
Orang yang dekat dan menjadi ahli al-quran akan betah berlama-lama dengan al-quran. Membacanya, membaca tafsirnya dan merenungkan apa yang dia baca. Selain itu menjadikan al-quran sebagai rujukan dalam kehidupan.

Orang yang merenungi al-quran akan merasakan kedamaian dan ketenangan, karena al-quran adalah obat penawar bagi penyakit hati dan jasmani.

Imam Ibnu Qoyyim berkata di dalam Kitab Miftah Daris Sa’adah; Sesungguhnya membaca satu ayat saja dengan penuh tafakur dan memahaminya, lebih baik daripada membaca Al-Qur`an dan mengkhatam-kannya tanpa tadabbur dan tanpa memahami. Lebih bermanfaat bagi qalbu untuk menghasilkan iman dan merasakan manisnya Al-Qur`an.


10 Kunci Mentadabburi Alqur'an


Tidak diragukan lagi, bahwa apabila al-Qur’an diturunkan kepada gunung, maka niscaya ia akan tunduk khusyu terpecah belah dikarenakan takut kepada Allah ta’ala. Sebagaimana firman Allah ta’ala, artinya, “Kalau sekiranya kami menurunkan al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah.Dan perumpamaan-perumpamaan itu kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir”. (QS. al-Hasyr: 21) 

Tapi kebanyakan kita manusia yang punya matahati, malah biasa–biasa saja ketika membacanya. Kita tidak menemukan apa yang Allah ta’ala gambarkan pada ayat di atas. Tidak meninggalkan bekas dan hampir tak ada bedanya dengan kita membaca buku cerita atau sejenisnya. 

Di mana letak kesalahannya? Padahal kita meyakini bahwa al-Qur’an adalah ayat–ayat Allah ‘azza wajalla yang punya daya pengaruh yang sangat kuat. Jadi tidak ada kemungkinan lain kecuali kesalahan itu ada pada diri kita sendiri dan cara kita berinteraksi dengan al-Qur’an. 

Segala sesuatu pasti ada kuncinya. Kunci shalat adalah bersuci, kunci surga adalah kalimat tauhid, kunci kemenangan adalah sabar, dan kunci–kunci yang lain. Begitu juga permasalahan yang kita hadapi ini pasti ada kuncinya. Kunci agar kita khusyu’ ketika membaca al-Qur’an, mentadabburi dan menghayatinya sepenuh hati. 

Syaikh Khalid ibn Abdil Karim mencoba mencari dan memaparkan kepada kita sepuluh kunci untuk mentadabburi dan menghayati al-Qur’an. 10 Kunci tersebut yaitu: 

Kunci Pertama : Hati yang Cinta al-Qur’an 

Sesungguhnya hati ini apabila cinta pada sesuatu, maka dia akan tertambat, selalu ingin bertemu dan rindu padanya. Begitu juga terhadap al-Qur’an. Kalau seseorang sudah cinta padanya, maka dia akan selalu merasa senang membaca dan mengerahkan seluruh kemampuannya untuk memahami dan menyelami makna yang terkandung di dalamnya. Sebaliknya, kalau tidak ada cinta, maka orang akan sangat sulit menyelami makna–makna al-Qur’an. 

Sudahkah kita cinta al-Qur’an? Cinta al-Qur’an mempunyai beberapa tanda, di antaranya : 

1. Gembira bila bersua dengannya. 
2. Duduk bersanding lama dengannya tanpa bosan. 
3. Selalu rindu padanya bila lama tak bertemu, dan selalu berusaha menghilangkan apa pun penghalang antara dia dengannya 
4. Selalu minta petunjuknya, percaya dan puas dengan pengarahannya dan selalu merujuk kepadanya dalam setiap masalah hidup yang dihadapinya. 
5. Selalu menaati perintah dan larangannya 

Kunci Kedua : Meluruskan Tujuan Membaca al-Qur’an. 

Ada lima tujuan yang agung ketika membaca Al-Qur’an, yaitu: 
1. Mengharapkan pahala. 
2. Bermunajat dengan Penciptanya. 
3. Berobat. 
4. Mendapatkan ilmu. 
5. Bertujuan untuk mengamalkannya. 

Bilamana seorang muslim membaca al-Qur’an dengan menggabungkan lima tujuan agung ini di dalam hatinya, maka pahalanya akan lebih besar dan manfaatnya akan lebih banyak. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan” (HR. al-Bukhari), maka setiap kali niat itu lebih ikhlas, lebih murni, lebih tinggi nilainya sehingga pahala dan hasilnya pun akan lebih besar. 

Kunci Ketiga : Shalat Malam Bersama al-Qur’an 

Maksudnya adalah kita membaca al-Qur’an ketika shalat malam. Ini adalah termasuk kunci yang paling utama untuk bisa mentadabburi al-Qur’an dengan baik. Banyak sekali dalil yang menunjukkan penting dan utamanya shalat malam, yang di dalamnya bacaan al-Qur’an lebih bermakna. Di antaranya adalah firman Allah, artinya, “Dan pada sebagian malam hari shalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Rabbmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”. (Al-Isra : 79) 

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila seorang ahli al-Qur’an mengamalkannya, dia baca al-Qur’an di malam dan siang hari, niscaya hafalannya terjaga. Tapi kalau ia tinggalkan maka hilanglah hafalannya”. (HR. Muslim) 

Kunci Keempat : Membacanya di malam hari. 

Waktu malam, menjelang fajar merupakan waktu yang sangat baik untuk menghayati dan merenungi ayat–ayat al-Qur’an. Karena waktu itu adalah waktu yang barokah, saat Allah subhanahu wata’ala turun ke langit dunia dan dibukanya pintu–pintu langit. Juga waktu tersebut merupakan waktu yang tenang dan sunyi. Firman Allah subhanahu wata’ala, artinya, “Dan pada sebagian malam hari shalat tahajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Rabbmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”. (QS. al-Isra : 79). Dan juga firman Allah subhanahu wata’ala artinya, “Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan”. (QS. al Muzzammil : 6) 

Ibnu ‘Abbas rodiyallahu ‘anhu dalam hal baca al-Qur’an di malam hari ini berkata, “Itu lebih mudah untuk memahami al-Qur’an”. 

Kunci Kelima: Mengkhatamkan al-Qur’an Perpekan 

Inilah yang diamalkan oleh kebanyakan Sahabat dan para Salafus Shalih. Mereka adalah orang–orang yang paling menghayati dan mengamalkan ayat–ayat al-Qur’an. Ibnu Mas’ud radiyallahu ‘anhu berkata, ”Janganlah al-Qur’an itu dikhatamkan kurang dari tiga hari. Khatamkanlah dalam tujuh hari sekali, dan hendaklah dijaga hizbnya (tanda penunjuk bacaannya)” 

Kunci Keenam : Membacanya Melalui Hafalan 

Orang yang hafal al-Qur’an, dia lebih mudah untuk merenungi dan menghayati al-Qur’an, karena al-Qur’an telah mendarah daging di dalam dirinya dan mudah untuk menghadirkannya kapan saja dan di mana saja. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencela orang yang sama sekali tidak hafal al-Qur’an. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya orang yang di dalam dirinya tidak ada al-Qur’an walaupun sedikit, seperti rumah yang telah usang” (HR. at-Tirmidzi, “Hadits Hasan”) 

Kunci Ketujuh : Mengulang – ulang Ayat yang Dibaca. 

Tujuan diulang–ulangnya ayat adalah untuk memahami ayat yang dibaca. Lebih sering diulang, maka pemahaman dan penghayatan akan lebih dalam. Para Salafussalih dahulu selalu mengulang ayat–ayat yang mereka baca, mengikuti suri tauladan mereka, yaitu Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam. Abu Dzar radiyallahu ‘anhu menceritakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat malam hingga shubuh dengan mengulang-ulang satu ayat, yaitu ayat yang artinya, “Jika engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, se-sungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. al-Maidah :118) 

Kunci Kedelapan : Mengkaitkan al-Qur’an Dengan Makna dan Realita Kehidupan. 

Maksudnya adalah selalu mengaitkan apa yang kita baca dari al-Qur’an dengan makna di kehidupan nyata kita sehari–hari. Apapun yang kita temukan di kehidupan kita, kita selalu ingat al-Qur’an dan mengaitkan dengannya. Dengan ini al-Qur’an selalu ada di dalam jiwa kita, hidup dan mendarah daging. 

Kunci Kesembilan : Membaca al-Qur’an Secara Tartil. 

Membaca tartil artinya membaca dengan perlahan tidak tergesa-gesa, sehingga pembaca bisa memahami dan menghayatinya. Allah ‘azza wajalla telah memerintahkan kita semua untuk membaca al-Qur’an dengan tartil. “Dan bacalah al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan” (QS. al-Muzzammil :5) 
Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini, “Maksudnya adalah: bacalah dengan pelan dan tidak tergesa-gesa, karena yang seperti itu membantu sekali dalam memahami dan menghayati al-Qur’an”. 

Kunci Kesepuluh: Mengeraskan Bacaan Al-Qur’an. 

Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam telah memerintahkan kita umatnya agar memperbagus lantunan al-Qur’an dan mengeraskan bacaannya. Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallahu ‘alahi wasallam bersabda, “Bukanlah termasuk dari golongan kami orang yang tidak melantunkan al-Qur’an dengan mengeraskan bacaannya”(HR. Bukhari dan yang lainnya) 
Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhuma berkata kepada orang yang membaca al-Qur’an dengan cepat, “Kalau kamu baca al-Qur’an, maka bacalah dengan bacaan yang bisa didengar telingamu dan difahami matahatimu”. 

Semoga kita semua bisa memahami, menghayati, mentadabburi, dan mengamalkan ayat – ayat al-Qur’an. Dan semoga kita mendapatkan syafaat dari Al-Qur’an. Amin. Wallahu A’lam. (Abdush Shamad) 

Sumber: Disarikan dari kitab : Mafatih Tadabbur Al-Qur’an , Syaikh Khalid ibn Abdil Karim) 

[Sumber: alshofwah.or.id]

Keutamaan Menangis Ketika Membaca al-Quran


Betapa seringnya kita membaca al-quran, berkali-kali kita telah khatam al-quran. Tapi sudah pernahkah kita merasakan ada perubahan dalam iman kita? Adakah perubahan dengan kondisi hati kita? Atau al-Quran hanya dijadikan rutinitas ibadah yang kering dengan makna dan tidak memberikan perubahan apa-apa yang berarti bagi kita?
Sudah jelas bahwa Al-Quran tidak hanya sekedar dibaca saja akan tetapi di-tadabburi, dipelajari dan diamalkan. Allah Ta’ala berfirman,

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ

“Ini adalah sebuah kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS. Shaad:29).

Dengan memahami apa yang kit abaca, biasanya hati akan tersentuh dan mudah untuk menangis. Maka tak heran jika emosional kita tidak terbawa, karena kita tidak paham apa yang kit abaca. Banyak para salaf yang matanya mengalirkan air mata ketika membaca ayat al-Quran. Menangis takut ketika bertemu dengan ayat-ayat yang berisi peringatan. Dan menangis penuh rindu ketika menemukan ayat tentang rahmat  Allah Ta’ala.

Memang benar, kita tidak mesti harus menangis terus ketika membaca Al-Quran. Akan tetapi jika seumur hidup tidak pernah mata ini tersentuh dengan Al-Quran maka kita harus banyak-banyak intropeksi diri. Karena salah satu ciri seorang mukmin adalah hatinya bergetar dan bertambah imannya ketika dibacakan Al-Quran dan matapun bisa menangis bahagia.

Allah menyebutkan salah satu ciri seorang yang beriman adalah hatinya peka terhadap Al-Quran. Peka dan bergetar ketika disebut nama Allah.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka karenanya dan hanya kepada Rabb mereka, mereka bertawakkal.” (QS. Al-Anfal: 2).

Berikut kisah panutan kita Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dimana  beliau berlinang air mata ketika dibacakan Al-Quran.

Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata,

قال لي النبيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : ” اقْرَأْ علَّي القُرآنَ ” قلتُ : يا رسُولَ اللَّه ، أَقْرَأُ عَلَيْكَ ، وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ ؟ ، قالَ : ” إِني أُحِبُّ أَنْ أَسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِي ” فقرَأْتُ عليه سورَةَ النِّساء ، حتى جِئْتُ إلى هذِهِ الآية : { فَكَيْفَ إِذا جِئْنا مِنْ كُلِّ أُمَّة بِشَهيد وِجئْنا بِكَ عَلى هَؤلاءِ شَهِيداً } [ النساء / 40 ] قال ” حَسْبُكَ الآن ” فَالْتَفَتَّ إِليْهِ ، فَإِذَا عِيْناهُ تَذْرِفانِ) .

”Suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, “Bacakanlah al-Qur’an kepadaku.” Maka kukatakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah saya bacakan al-Qur’an kepada anda sementara al-Qur’an itu diturunkan kepada anda?”. Maka beliau menjawab, “Sesungguhnya aku senang mendengarnya dibaca oleh selain diriku.” Maka akupun mulai membacakan kepadanya surat an-Nisaa’. Sampai akhirnya ketika aku telah sampai ayat ini (yang artinya), “Lalu bagaimanakah ketika Kami datangkan saksi bagi setiap umat dan Kami jadikan engkau sebagai saksi atas mereka.” (QS. an-Nisaa’ : 40). Maka beliau berkata, “Cukup, sampai di sini saja.” Lalu aku pun menoleh kepada beliau dan ternyata kedua mata beliau mengalirkan air mata” (HR. Bukhari [4763] dan Muslim [800]).

Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا يلج النار رجل بكى من خشية الله حتى يعود اللبن في الضرع

“Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena merasa takut kepada Allah sampai susu [yang telah diperah] bisa masuk kembali ke tempat keluarnya” (HR. Tirmidzi no. 1633).

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ في ظِلِّهِ يَوْمَ لا ظِلَّ إلا ظلُّهُ ….، ورَجُلٌ ذَكَرَ اللَّه خالِياً فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

“Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah pada hari ketika tidak ada naungan kecuali naungan-Nya; …. dan [7] seorang yang mengingat Allah di kala sendirian sehingga kedua matanya mengalirkan air mata (menangis)” (HR. Bukhari [629] dan Muslim [1031]).
Dan sabda beliau Shallallâhu ‘alaihi wa sallam,

عينان لا تمسهما النار ، عين بكت من خشية الله ، وعين باتت تحرس في سبيل الله
“Ada dua buah mata yang tidak akan tersentuh api neraka; mata yang menangis karena merasa takut kepada Allah, dan mata yang berjaga-jaga di malam hari karena menjaga pertahanan kaum muslimin dalam [jihad] di jalan Allah” (HR. Tirmidzi [1639], disahihkan Syaikh Al-Albani dalam Sahih Sunan At-Tirmidzi [1338]).

Demikian semoga bermanfaat.


Berteman dengan Al-Quran


Manusia perlu berteman karena memang makhluk sosial, kalau nekat tidak ingin berteman… maka akan berubah menjadi makhluk sok-sial.

Bicara tentang pertemanan, berarti membicarakan masalah frekuensi interaksi dan keterkaitan hati, bukan sekedar masalah kenal wajah, kenal nama, dan ngobrol sekali-kali. Apalagi, teman merupakan cerminan diri kita, maka… penting untuk memperhatikan seperti apakah karakter orang-orang yang kita anggap sebagai teman, serta mempertanyakan mengapa kita berteman dengannya?

 Dalam tataran yang lebih tinggi, teman merupakan salah satu faktor penting yang dapat menentukan tempat kita berada pasca kematian: Apakah di syurga, atau justru neraka.

 Teman Menuju Syurga, Jangan Diabaikan!

 Bagaimana pendapatmu jika melihat orang miskin menolak diberi emas, padahal ia sangat memerlukan uang untuk menghidupi diri dan keluarganya?

 Hmm...

 Merasa ia adalah orang miskin terbodoh di dunia? Merasa kasihan karena ia tidak tahu nilai emas tersebut? Merasa orang miskin tersebut sombong plus munafik karena sok banget menolak pemberian yang berharga buat hidupnya? Atau jangan-jangan… kamu merasa orang miskin itu tidak waras sehingga tidak tahu diri dan keluarganya butuh apa! 

Nah, sama juga: Sangat bodoh, kasihan, munafik, dan gila bener kalau diri kita enggan berteman dengan Quran, dengan alasan apa pun (Entah itu karena malas, karena merasa diri hina dan tak pantas, atau karena masih terbata dalam membacanya). Kalau kita menolak Quran, itu berarti kita tidak tahu diri dan tidak mengerti kalau setiap kita tuh butuh al-Quran, sama seperti seorang miskin yang butuh uang untuk pakaian, makan, dan tempat naungan sehari-hari.

 Kita sih ngakunya lebih memilih syurga dan ogah mengetuk pintu neraka, tapi faktanya... banyak di antara kita yang mengabaikan keberadaan teman menuju syurga ini.

Berteman dengan Quran, Bagaimana Caranya Sih?

Berteman dengan Quran berarti kita memperbanyak frekuensi interaksi dengan Quran sekaligus menautkan hati kita padanya. Sama kayak sobatan akrab dengan yang lainnya saja, bawaannya pengen ketemuan terus, update status, kalau lama tidak bertemu rasanya rindu.

 Lalu bagaimana jika perasaan akrab seperti itu belum singgah di hati kita? Rasanya kok masih berat untuk bergaul dengan ayat-ayat apalagi tafsir Quran, masih asing sekali. Lebih enjoy mendengar orang bernyanyi daripada tilawah. Lebih suka menghapal lirik lagu terbaru daripada hapal surat yang pendek sekalipun.

 Hal seperti ini sangat wajar, karena memang tiket ke neraka diobral di mana-mana oleh Iblis yang juga terus-terusan mencari teman. Sementara tiket ke syurga harganya lebih tinggi, tempat pembeliannya lebih menantang. Terus, bagaimana supaya kita bisa berteman akrab dengan Quran? Berikut sedikit tipsnya:

 Awali dengan Memancangkan Niat 

Pernahkah niat berteman dengan seseorang, eeh beneran menjadi teman? Ya iyalah, segalanya memang berawal dari niat dalam hati. Jika kamu telah memancang niat untuk sobatan dengan Quran, insya Allah sudah menjadi bahan bakar yang bagus, tinggal hidupkan kendaraan dan jalan! 

Disiplin Setiap Hari

Disiplin adalah kata kunci selanjutnya, sama seperti disiplinnya kita mengecek akun facebook via HP maupun PC, ganti foto profil plus update status, demikian pula seharusnya kita disiplin membaca Quran, meski hanya selembar dalam sehari pun tidak masalah, daripada tidak sama sekali. Bukankah pertandingan lari antara kura-kura dan kelinci dimenangkan oleh kura-kura? Meski lambat tapi kontinyu, daripada si kelinci yang cepat tapi kemudian merasa cukup sehingga ia beristirahat lama di bawah pohon, tidak menyadari dirinya tengah lalai. Akan tetapi, yang terbaik adalah mereka yang bisa cepat seperti kelinci dan juga kontinyu seperti kura-kura.

 Mencari Tahu Keutamaan Quran

Namanya juga manusia, termotivasi sesuatu kalau ada keuntungan yang bisa diperoleh. Maka, agar motivasi kita kian menebal, penting untuk mencari tahu apa saja keutamaan-keutamaan para sahabat Quran.

 Al-Quran, Teman Unggulan

 Ada manusia yang berteman karena harta, kecantikan atau kegagahan fisik, juga karena kepandaian dan talenta tertentu, atau bahkan karena jabatan dan kedudukan.

 Kebanyakan manusia berteman karena ada alasan, oleh karena itu, Allah pun menawarkan banyak keutamaan dan keunggulan bagi siapa pun yang banyak berinteraksi dengan Quran. Tentu saja ini dapat menjadi alasan untuk mulai berkawan dengan Quran yang selama ini kita lalaikan. Apalagi keutamaan bagi para sahabat Quran tidak hanya diperoleh di akhirat (yang masih ghaib), tapi juga di dunia.

 Keutamaan di Dunia

Habis waktu untuk mempelajari Quran akan ”dibayar” berkali lipat.

”Barang siapa yang disibukkan al-Quran dalam rangka berdzikir dan memohon kepada-Ku, niscaya akan Aku berikan sesuatu yang lebih utama dari apa yang telah Ku berikan pada orang-orang yang meminta. Dan keutamaan Kalam Allah dari seluruh Kalam selain-Nya seperti keutamaan Allah atas makhluk-Nya.” [H. R. Turmudzi]

 Bukankah kita memiliki banyak hajat/ keinginan? Daripada menghabiskan waktu untuk bekerja tanpa jelas juntrungannya, kepala di kaki-kaki di kepala tapi segalanya serba tidak pasti, mengapa tidak ambil jalan pintas? Jalan tercepat untuk mencapai keinginan tersebut adalah banyak berinteraksi dengan Quran!

Semua manusia HARUS iri pada sahabat Quran.

”Tidak boleh iri KECUALI terhadap dua kenikmatan; kepada seorang yang diberi Al-Quran oleh Allah kemudian ia membacanya sepanjang malam dan siang, dan orang yang diberi harta oleh Allah lalu ia membelanjakannya di jalan Allah sepanjang malam dan siang.” [H.R. Bukhari]

 Padahal iri adalah salah satu penyakit hati yang tidak diperbolehkan loh, misalnya iri sama teman yang dapat beasiswa ke luar negeri, iri sama aktris berwajah cantik tanpa cela, iri pada handphone canggih milik tetangga. Akan tetapi kalau kita menjadi kawan al-Quran, seluruh makhluk harus iri pada kita. Hmmm...

Teman Quran lebih berhak menjadi pemimpin

”Yang berhak menjadi imam adalah yang paling banyak interaksinya dengan al-Quran.”[HR. Muslim]

 Misalnya ada pemilihan ketua OSIS, ketua kelas, walikota, bahkan presiden sekalipun, seharusnya mengutamakan orang yang paling banyak interaksi dengan Quran, hapalannya banyak, bacaan tajwidnya lancar, makhroj hurufnya baik.

Berteman dengan Quran akan mendapat ketenangan

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah, membaca kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka; kecuali akan turun kepada mereka ketenangan, diliputi rahmat, dikelilingi malaikat, dan Allah SWT. menyebut nama-nama mereka di hadapan makhluk yang ada di dekat-Nya.” [H.R. Muslim]

 Saat ini banyak orang stress, depresi, sakit jiwa, disebabkan hatinya selalu gelisah dan tidak tenang. Menggunakan obat penenang malah beresiko terhadap kesehatan, bagi orang beriman, obat penenang paling mujarab adalah bacaan Quran.

Keutamaan di Akhirat

Quran akan memberi syafaat bagi para sahabatnya
”Bacalah al-Quran, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat menjadi pemberi syafaat bagi orang-orang yang bersahabat dengannya.” [H.R. Bukhari]

 Syafaat adalah usaha perantaraan dalam memberikan sesuatu manfaat bagi orang lain atau mengelakkan sesuatu mudharat bagi orang lain. Di akhirat kelak tidak akan ada yang peduli pada kita, bahkan teman-teman kita saat ini akan cuek, sibuk memikirkan diri masing-masing, begitu pula orangtua dan kerabat. Maka beruntunglah para sahabat Quran karena ia akan mereguk manfaat berteman dengan Quran selama di dunia, kelak Quran akan memberi syafaat padanya.

Quran akan membela para sahabatnya

”Didatangkan pada hari kiamat al-Quran dan ahlinya—yakni orang-orang yang dulu mengamalkannya di dunia. Surat al-Baqarah dan Ali Imran maju mendampinginya dan membelanya.”[H.R. Muslim]

 Bayangkan kalau kita menjadi terdakwa, tapi tidak ada yang bersedia menjadi pengacaranya, sedih banget kan? Nah, hal itu tidak akan terjadi pada sahabat Quran, karena Quran akan menjadi pendamping dan pembela bagi sahabatnya.

Pahala berlipat ganda

“Barang siapa yang membaca satu huruf dari al-Quran, maka baginya satu kebaikan. Satu kebaikan akan menjadi sepuluh kali lipat.”[H.R. Turmudzi]

 Buat yang merasa banyak dosa, jangan berputus asa dari rahmat Allah! Membaca Quran bisa mendatangkan pahala berlipat-lipat! Semoga bisa mengimbangi koleksi dosa kita setiap harinya.

Mengangkat derajat orangtua di akhirat

“Barang siapa yang belajar al Quran dan mengamalkannya akan diberikan kepada kedua orangtuanya pada hari kiamat mahkota cahaya lebih indah dari cahaya matahari. Kedua orangtua itu akan berkata, “mengapa kami diberi ini?” maka dijawab, “karena anakmu yang telah mempelajari al Quran.” [H.R. Abu Dawud, Ahmad dan Hakim]

Mungkin di dunia, orangtua dibanggakan dengan level pendidikan anaknya, dengan materi yang diperoleh anaknya, tapi kelak di akhirat hal seperti itu tidak laku lagi, justru orangtua akan sangat bangga pada anaknya yang berteman dengan quran.

 Tidak Sekedar Berteman, tapi Bersahabat dengan Quran

 Ketika kita sudah memulai interaksi dengan Quran dan mengetahui begitu banyak keutamaan berkawan dengan Quran, mengapa tidak kita naikan level kita menjadi sahabat Quran?

Sedikit perbedaan, kalau sahabat itu jauh lebih dekat dan akrab bahkan mesra, lengket tak terpisahkan, kapanpun kita bahagia, sedih, atau marah, yang pertama kali kita ingat sebagai tempat curhat adalah sahabat. Betul kan?

 Ya, jadikan saja Quran sebagai sahabat kita! Bukankah bersahabat dengan manusia tidak melulu menyenangkan? Terkadang kita menganggapnya sahabat, ternyata dia tidak menganggap kita demikian. Dengan menjadi sahabat Quran, kita telah memiliki sahabat terbaik yang tidak akan pernah mengecewakan kita.

Bagaimana cara menjadi sahabat Quran?

Perbaiki bacaan! (tahsin)

Cara membaca Quran tidak asal bunyi saja, ada makhroj (tempat keluar) setiap hurufnya, ada hukum tajwidnya, dan itu musti dipelajari. Jangan sampai kita baca Quran dengan sekenanya sehingga arti ayat yang kita baca malah berbeda.

Bagi orang-orang yang bersedia memperbaiki bacaan Qurannya, insya Allah sudah memperlihatkan kesungguhannya menjadi sahabat Quran.

 ”Orang yang pandai berinteraksi dengan Quran akan bersama malaikat yang mulia dan taat; sedangkan orang yang membaca Quran terbata-bata dan merasa kesulitan akan mendapatkan dua pahala.”[HR. Muslim]

Hebat bukan? Bahkan ketika kita belajar membaca Quran sesuai dengan aturannya, meski terbata-bata kita tetap diganjar dua pahala.

Tambah hapalan

Membaca Quran saja sudah berpahala, apalagi menghapalnya!

Belajar sekaligus mengajarkan Quran

Jangan dipikir mengajar Quran hanya pekerjaan guru TPA! Kita bisa kok mengajar Quran melalui fb atau twitter atau blog kita. Misalnya kita mengetahui makna dari suatu ayat kemudian kita menuliskannya untuk disebar ke teman-teman lain. Atau kita lagi curhat suatu masalah, kemudian menemukan jawabannya dalam Quran, sampaikan hal tersebut di status kita. Jangan merasa sok alim dengan melakukan begitu, karena kita kan sedang bersahabat dengan Quran.

”Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Quran dan mengajarkannya.”[HR. Bukhori] 

Hadits di atas bukan berbunyi ”Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Quran kemudian mengajarkannya” loh! Artinya proses belajar dan mengajar Quran dilakukan bersamaan alias serempak. Meskipun kita baru bisa melafalkan satu huruf Quran secara tepat, kita sudah punya potensi untuk mengajarkannya pada orang lain. Rasul juga bersabda untuk menyampaikan kebaikan meskipun hanya satu ayat. Jadi, semangat untuk mengajarkan Quran harus berkobar di dalam hati setiap kita.

Mengamalkan Quran

Jangan sampai kita hanya fasih membaca Quran tapi akhlak kita tetap saja bobrok. Itu sih belum menjadi sahabat Quran namanya! Amalkan lah nilai-nilai Quran, misalnya dengan memaafkan kesalahan orang, silaturahim, berbakti pada orang tua, tidak berkata kasar, tidak banyak mengeluh.

 Rasakan sensasinya! Menjadi sahabat Quran ternyata juga memperbaiki akhlak kita, dan perbaikan akhlak membuat kita lebih dicintai manusia lainnya.

Kalau Masih Tetap Menolak Berteman...

 Yap, sudah siap berteman dan menjadi sahabat Quran? Kalau masih berpikir dua kali, disarankan untuk segera mencari Quran dan membacanya sekarang juga! Jangan sampai kita kebanyakan mikir daripada bertindak, akhirnya syetan cari celah untuk menggoda, bukannya jadi sahabat Quran eeh malah jadi sahabat syetan. Na’udzubillah.

 Jika masih saja ada di antara kita yang menolak berteman dengan Quran, duh kasian deh… mungkin kita memang orang miskin yang tidak sadar sedang ditawarkan emas. [Sumber: Annida-online.com]

Bagaimana Hukum Membaca al-Quran Tanpa Suara


Jika yang dimaksud yaitu membaca Al Qur’an tanpa suara dan tanpa gerak bibir, yang demikian ini tidak dinamakan membaca Al Qur’an. Pertanyaan sejenis pernah ditanyakan kepada Syaikh Ibnu Baz rahimahullah, beliau menjawab:

“Berdzikir itu harus menggerakan lisan dan harus bersuara, minimal didengar oleh diri sendiri. Orang yang membaca di dalam hati (dalam bahasa arab) tidak dikatakan Qaari. Orang yang membaca tidak dapat dikatakan sedang berdzikir atau sedang membaca Al Quran kecuali dengan lisan. Minimal didengar dirinya sendiri. Kecuali jika ia bisu, maka ini ditoleransi” (Kaset Nurun ‘alad Darb, http://www.ibnbaz.org.sa/mat/10456)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah juga pernah ditanya hal serupa, beliau menjawab:

“Qira’ah itu harus dengan lisan. Jika seseorang membaca bacaan-bacaan shalat dengan hati saja, ini tidak dibolehkan. Demikian juga bacaan-bacaan yang lain, tidak boleh hanya dengan hati. Namun harus menggerakan lisan dan bibirnya, barulah disebut sebagai aqwal (perkataan). Dan tidak dapat dikatakan aqwal, jika tanpa lisan dan bergeraknya bibir” (Majmu’ Fatawa Ibnu ‘Utsaimin, 13/156)

Demikian penjelasan para ulama. Ringkasnya, orang yang membaca Al Qur’an dalam hati tidak dikatakan sedang membaca Al Qur’an dan tidak diganjar pahala membaca Al Qur’an. Namun praktek ini disebut sebagai tadabbur atau tafakkur Al Qur’an. Yaitu mendalami dan merenungkan isi Al Qur’an. Tadabbur atau tafakkur Al Qur’an ini termasuk dzikir hati. Sebagaimana dijelaskan oleh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin: “Dzikir bisa dengan hati, dengan lisan dan dengan anggota badan…Contoh dizikir hati yaitu merenungkan ayat-ayat Al Qur’an, rasa cinta kepada Allah, mengagungkan Allah, berserah diri kepada Allah, rasa takut kepada Allah, tawakkal kepada Allah, dan amalan hati yang lainnya” (Tafsir Al Baqarah, 2/167-168)

Solusinya, hendaknya anda membaca Al Qur’an dengan sirr (lirih). Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:

الجاهر بالقرآن كالجاهر بالصدقة، والمسر بالقرآن كالمسر بالصدقة

“Membaca Al Qur’an dengan suara keras, seperti bersedekah tanpa disembunyikan. Membaca Al Qur’an dengan lirih, seperti bersedekah dengan sembunyi-sembunyi” (HR. Tirmidzi no.2919, Abu Daud no.1333, Al Baihaqi, 3/13. Di-shahih-kan oleh Al Albani di Shahih Sunan At Tirmidzi)

Memang terdapat perbedaan pendapat diantara para ulama tentang mana yang lebih utama, membaca secara sirr ataukah secara jahr? Namun pada kondisi anda, jika khawatir membaca Al Qur’an dapat mengganggu orang lain, membaca secara sirr lebih utama. Berdasarkan hadits lain:

الا إن كلكم مناج ربه فلا يؤذين بعضكم بعضا ولا يرفع بعضكم على بعض في القراءة أو قال في الصلاة

“Ketahuilah, kalian semua sedang bermunajat kepada Allah, maka janganlah saling mengganggu satu sama lain. Janganlah kalian mengeraskan suara dalam membaca Al Qur’an,’ atau beliau berkata, ‘Dalam shalat’,” (HR. Abu Daud no.1332, Ahmad, 430, di-shahih-kan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani di Nata-ijul Afkar, 2/16).

Wallahu’alam.

—
Penulis: Yulian Purnama
[Artikel UstadzKholid.Com /konsultasisyariah.com]

Berapa Kali Kita Membaca Al-Quran Terjemah?


Mungkin ada diantara kita yang rutin mengkhatamkan al-Quran dalam sebulan, yang berarti satu juz dalam satu hari. Tapi seberapa sering kita membaca terjemah al-Quran?
Apakah itu penting?

Ya, membaca al-Quran sangat penting, dan memahami apa yang kita baca juga sama pentingnya. Sayangnya, banyak umat islam yang mengabaikan yang kedua. Mereka hanya membaca al-Quran tapi tidak tahu dan tidak faham yang mereka baca. Ujungnya kering makna. Yang dibaca tidak meresap ke dalam relung hati.

Memang, bacaan al-Quran berpahala. Tapi akan lebih double pahalanya jika kita faham apa yang kita baca. Akan berlipat faidahnya jika kita tahu hukum-hukum yang terkandung di dalamnya.

Cobalah untuk memulai merutinkan dan mengkhatamkan membaca al-quran terjemah. Kemudian jika ada ayat-ayat yang sekiranya penting kita menandainya. Baik itu ayat tentang hukum-hukum syariat, motivasi dan lain sebagainya.

Kemudian lebih bagus jika kita membaca tafsirnya. Belilah tafsir al-Quran yang mudah difahami dan ringkas semacam tafsir Ibnu Katsir atau Tafsir As-Sa’di. Jika tafsir Ibnu Katsir yang asli dirasa terlalu tebal dan mahal, kini sudah tersedia ringkasannya yang lebih ringan. Atau jika masih tidak memungkinkan, sudah tersedia buku tafsir dalam bentuk e-book dan tafsir online yang semakin memudahkan.

Lagi pula soal mahalnya harga, tidak sebanding dengan ilmu yang akan kita dapatkan. Kadang kita terlalu pelit untuk urusan ilmu, tapi terlalu dermwan untuk urusan gaya hidup. Padahal, Imam Syafi’i dalam salah satu nasihatnya dalam hal menuntut ilmu, kita harus rela berkorban harta dan berbekal dalam menuntut ilmu.

Kembali ke pembahasan, intinya jangankan membaca tafsir Al-Quran, menamatkan al-Quran terjemah saja banyak yang belum pernah.

Ataupun kalau sudah pernah, jarang yang mengulangnya atau beberapa kali membacanya hingga tamat. Layaknya mereka mengkhatamkan membaca al-Quran (tilawah).

Bukan tanpa alasan aku menulis hal ini. Semua berawal dari pertanyaan seorang teman sekamar selama di ma’had dulu. Dia pernah bertanya,” Kamu sudah pernah tamat baca terjemah al-Quran?”

Dan semua teman sekamar menggelengkan kepalanya, termasuk diriku sendiri.”
Kalau khatamin al-Qur'an alhamdulillah sering. Terutama di bulan Ramadhan. Tapi kalau namatin baca terjemahannya, sepertinya belum pernah.

Pernah juga aku bertekad untuk menamatkan membaca tafsir al-Quran. Sampai-sampai bela-belain meminjam Tafsir al-Quran ke perpustakaan dan menyempatkan diri untuk membacanya sepulang kerja.

Sayangnya, usaha yang bagus itu tidak sampai selesai dikerjakan. Paling-paling, membaca tafsir al-Quran secara tematik sesuai dengan tema atau ayat yang ingin saya ketahui tafsirnya. Berdasar minat terhadap satu ayat yang dibahas.

Kembali ke pertanyaan teman. Dia melanjutkan pertanyaannya setelah kami-teman-temannya- menggelengkan kepala. Merasa “rumasa” belum pernah menamatkan terjemah al-Quran.

"Orang non Muslim ajah ada yang mau membaca terjemah al-Qur'an sampai selesai... Banyak yang kemudian dapet hidayah karena baca terjemahan al-Qur'an. Ada lagi yang membaca al-Quran plus mempelajari bahasa Arab hanya untuk menghancurkan islam dari dalam. Mereka para orientalis barat mencoba untuk menghancurkan islam dengan mempelajari islam. Harusnya kita tidak kalah.”

Semenjak itu, aku jadi tersadar. Bener juga kata temanku ini. Mestinya kita orang Islam yang harusnya lebih semangat baca terjemahan al-Qur'an. Bukankah kita sering mengatakan:

Al-Qur'an pedoman kita...
Al-Qur'an adalah petunjuk kita...
Al-Qur'an adalah pelita...
Al-Qur'an ibarat peta...

Namun yang jadi pertanyaan sekarang:
Bagaimana mungkin al-Quran akan menjadi petunjuk, jika artinya saja kita tidak pernah tahu?

Nah, inilah yang menjadi PR untuk sama-sama kita renungkan.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,”Hajrul Qur`an (berpaling dari al Qur`an) itu ada beberapa bentuk.

Pertama : Berpaling tidak mau mendengarkannya, dan tidak mengimaninya.

Kedua : Tidak mengamalkannya, dan tidak berhenti pada apa yang dihalalkan dan apa yang diharamkannya, walaupun ia membaca dan mengimaninya.

Ketiga : Ttidak berhukum dengannya dalam masalah ushuluddin (pokok-pokok agama) serta cabang-cabangnya.

Keempat : Tidak merenungi dan tidak memahami, serta tidak mencari tahu maksud yang diinginkan oleh Dzat yang mengatakannya.

Kelima : Tidak mengobati semua penyakit hatinya dengan al Qur`an, tetapi justru mencari obat dari selainnya. 

Semua perbuatan ini termasuk dalam firman Allah Azza wa Jalla:
“Rasul berkata : “Wahai, Rabb-ku. Sesungguhnya kaumku telah menjadikan al Qur`an ini sesuatu yang tidak diacuhkan”. [al Furqan/25 : 30].

Jadi, masih enjoy menikmati hidup sementara kita belum pernah menamatkan terjemah al-Quran dan mempelajari tafsirnya? No way!