• “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 5) Read more
  • Syukurmu, Untuk Kemaslahatanmu

    “Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, "Bersyukurlah kepada Allah! Dan barang siapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Lukman ayat 12)” Read more
  • Kehendak

    “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS.ar-Ra’d:11) Read more
  • Berkah Syukur

    ““Dan ingatlah tatkala Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, Kami pasti akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku maka sesungguhnya adzab-Ku amatlah pedih’.” (QS. Ibrohim: 7) Read more
  • Kehendak

    “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS.ar-Ra’d:11) Read more
  • Jangan Berputus Asa

    “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah swt. Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’alamengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS. Az Zumar: 53-54).Read more
Tampilkan postingan dengan label Ayat Motivasi. Tampilkan semua postingan

Allah Menghapus Dosa-Dosa Kecil Selama Dosa Besar Ditinggalkan

Quranic-Inspiration_Allah Menghapus Dosa-Dosa Kecil Selama Dosa Besar Ditinggalkan

إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا

Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).
[Quran Surat an-Nisa ayat 31]
===
Kebaikan Akan Menghapus Keburukan Masa Lalu

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ ۚ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّاكِرِينَ
Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.
[Quran surat Hud ayat 114]

Visi yang Jauh ke Depan



يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(QS. Al-Hasyr  [59]: 18)
Sahabat,

Tentunya kita semua menginginkan kesuksesan. Tapi amat sedikit yang memahami kesuksesan sejati . selama ini kita hanya memandang kesuksesan dari karir yang menanjak, nama yang tenar dan besar di hadapan khalayak, dan kekayaan yang melimpah serta orang-orang yang mencintai dan mengelu-elukan di sekitarnya.

Padahal kesuksesan dengan semua dekkripsi tadi tidak ada apa-apanya dibanding kesuksesan besar yang seringkali tidak pernah menjadi perhatian besar kita. Apa itu? Kesuksesan akhirat.

Sahabat,

Waktu terus berjalan dan tidak akan pernah berhenti atau menunggu. Waktu juga mustahil mundur. Apa yang kita rasakan detik ini belum tentu dapat kita rasakan esok hari. Masa depan adalah misteri, sehingga kita harus memiliki visi dan misi untuk menghadapinya. Walaupun masa depan itu misteri, tapi kita bisa memprediksi dengan apa yang kita bisa, karena sunnatullah begitu adanya.

Oleh karena itulah, segala sesuatu yang akan terjadi di masa depan bisa kita persiapkan dari sekarang. Yaitu dengan mengumpulkan sedikit demi sedikit bekal untuk sesuatu yang tak terduga. Semakin banyak bekal kita, semakin banyak pula kesuksesan yang akan kita raih nantinya.

Sahabat,

Sedikit yang menyadari bahwa kehidupan yang sejati adalah kehidupan akhirat. Kehidupan yang langgeng abadi, tidak ada air mata duka dan penderitaan serta keluh kesah yang mengiringinya.

Dunia ibarat permainan selewat yang kadang membuat kita lupa akan akhirat. Persis seperti seorang anak yang melupakan tugas-tugas sekolahnya karena permainan yang menggiurkan, sehingga hari esok dihukum oleh guru karena abai dengan tugasnya.

وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ ( العنكبوت: 64)

"Tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda-gurau dan permainan saja. Sesungguhnya akhirat itulah kehidupan sebenarnya, jika saja mereka mengetahui." (QS. Al-'Ankabut : 64)

Oleh karena itulah, Allah subhanahu wata'ala yang Maha Tahu akan tabiat manusia ini (sering lalai karena permainan dunia) memperingatkan lewat ayatnya yang luar biasa.

ياأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ ( الحشر: 18)

"Hai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan perhatikanlah masing-masing kalian amal perbuatannya untuk akhirat! Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kalian perbuat." (QS. Al-Hasyr : 18)

Mengenai makna ayat ini, Ibnu Katsir rahimahullah di dalam kitab tafsirnya mengatakan, "Evaluasilah diri kalian sebelum amal perbuatan kalian dihitung, periksalah amal perbuatan yang kalian simpan untuk diri kalian demi hari dimana kalian akan dikembalikan dan diperlihatkan kepada Tuhan kalian!"

Evaluasi tersebut berdampak besar pada diri seorang hamba. Ia akan sadar bahwa telah banyak maksiat yang telah ia perbuat, dan ampunan Allah belum tentu ia terima. Sedangkan amal saleh yang ia kerjakan terlalu sedikit. Sehingga dengan mengevaluasi (muhasabah) diri, seseorang akan menambah perbuatan baiknya dan akan berhenti melakukan perbuatan yang buruk.

Jika kita perhatikan baik-baik perintah mengevaluasi diri pada ayat tersebut, kita akan dapatkan perintah tersebut diapit oleh dua perintah untuk bertakwa. Mayoritas ahli tafsir berpendapat bahwa pengulangan perintah takwa ini berfungsi untuk menekankan pentingnya takwa bagi seseorang yang beriman.

Perintah untuk mengevaluasi diri dan bertakwa diikuti dengan larangan menjadi orang yang lupa. Allah subhanahu wata'ala melanjutkan di ayat selanjutnya,

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (الحشر: 19)

"Janganlah seperti orang-orang yang melupakan Allah sehingga Allah membuat mereka lupa terhadap diri mereka sendiri. Merekalah orang-orang yang fasik." (QS. Al-Hasyr: 19)

Dalam memaknai orang-orang yang melupakan Allah, Ibnu Hibban rahimahullah mengatakan bahwa yang dimaksud ialah orang-orang yang meninggalkan perintah-Nya, sehingga Allah akan menjadikan mereka lupa berbuat baik untuk kehidupan akhirat.

Begitulah, saking terlena dengan kenikmatan dunia, mereka lupa bahwa hidupnya cepat atau lambat akan segera berakhir. Tapi dia tidak pernah berpikir tentang hal itu sehingga lupa beribadah, lupa berbuat baik dan lupa menyiapkan bekal untuk hidup yang tiada akhirnya kelak.

 Dengan tegas Ibnu Katsir mengatakan, "Janganlah kalian lupa mengingat Allah sehingga Allah akan menjadikan kalian lupa mengenai perbuatan untuk kepentingan kalian sendiri dan yang bermanfaat untuk akhirat kelak.”

Jadilah kita para pemenang di masa depan. Yakni para pemenang yang mendapatkan surga karena telah merealisasikan visi besarnya untuk mendapatkan akhirat. Mereka itulah pemenang sejati, walau di dunia mengalami kekalahan dari berbagai segi. Seperti kalah dari segi kekuasaan, kekayaan, jabatan, politik, ekonomi, strata sosial, dan lain sebagainya.

Bersama 1 Kesulitan, ada 2 Kemudahan


فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا()إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh  ayat 5 dan 6)

Sahabat,
Pernahkah kita merasa bahwa kesulitan begitu keras menghantam jiwa kita sehingga kita merasakan dada yang sempit dan pandangan yang seakan gelap? Pernahkah kita merasakan rasa frustasi yang selalu menghantui kehidupan kita sehingga kita tak tahu lagi apa yang mesti dilakukan?

Mungkin kondisi itu terjadi karena kita tidak menyadari bahwa Allah subhanahu wata'ala telah memberikan jalan keluar. Hanya saja kita abai karena pikiran yang tertutup dan jauhnya hati dari iman. Atau juga kita hanya terpaku pada penderitaan sehingga kita ‘tidak mengenali’ anugerah Allah subhanahu wata'ala yang telah dilimpahkan kepada kita dengan begitu banyaknya.

Sahabat,
Marilah kita perhatikan dua ayat di atas. Kata “al ‘usr (kesulitan)” yang diulang dalam surat Alam Nasyroh hanyalah satu. Al ‘usr dalam ayat pertama sebenarnya sama dengan al ‘usr dalam ayat berikutnya karena keduanya menggunakan isim ma’rifah (seperti kata yang diawali alif lam). Sebagaimana kaedah dalam bahasa Arab, “Jika isim ma’rifah  diulang, maka kata yang kedua sama dengan kata yang pertama, terserah apakah isim ma’rifah tersebut menggunakan alif lam jinsi ataukah alif lam ‘ahdiyah.” Intinya, al ‘usr (kesulitan) pada ayat pertama sama dengan al ‘usr (kesulitan) pada ayat kedua.[1]

Sedangkan kata “yusro (kemudahan)” dalam surat Alam Nasyroh itu ada dua. Yusro (kemudahan) pertama berbeda dengan yusro (kemudahan) kedua karena keduanya menggunakan isim nakiroh (kata yang tidak diawali alif lam). Sebagaimana kaedah dalam bahasa Arab, “Secara umum, jika isim nakiroh itu diulang, maka kata yang kedua berbeda dengan kata yang pertama.” Dengan demikian, kemudahan itu ada dua karena berulang. Ini berarti ada satu kesulitan dan ada dua kemudahan.

Nah, bagaimana jadinya jika Allah subhanahu wata'ala menurunkan kepada kita satu kesulitan kemudian setelah itu ada dua kemudahan. Satu kesulitan tidak akan pernah mengalahkan dua kemudahan. Dari ayaat ini kita harus yakin bahwa dibalik satu kesulitan ada dua kemudahan. Dibalik satu masalah, Allah subhanahu wata'ala telah sediakan dua jalan keluar dan solusi.

Akhir berbagai kesulitan adalah kemudahan

Berkaitan dengan dua ayat ini, di dalam kitab Taisir Karimir Rahman Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di mengatakan, “Kata al ‘usr (kesulitan) menggunakan alif-lam dan menunjukkan umum (istigroq) yaitu segala macam kesulitan. Hal ini menunjukkan bahwa bagaimana pun sulitnya, akhir dari setiap kesulitan adalah kemudahan.

Sahabat,

Dari sini kita bisa mengambil faidah bahwa badai pastilah berlalu. After a storm comes a calm. Setelah kesulitan selalu ada jalan keluar.

Dalam ayat  di atas, digunakan kata ma’a, yang asalnya bermakna “bersama”. Artinya, “kemudahan akan selalu menyertai kesulitan”. Seandainya kesulitan itu membelit hidup kita, maka kemudahan akan menyertainya. Mungkin tidak berlebihan jika kita sebut kesulitan dan kemudahan itu adalah satu paket yang tidak bisa dipisahkan. Mustahil ada kesulitan tanpa adanya kemudahan yang telah Allah sertakan bersamanya. Begitulah, kemudahan akan terus menemani kesulitan walaupun di medan yang sesulit apa pun.

Selain dua ayat tadi, Allah subhanahu wata'ala juga berfirman,

سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا

Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (QS. Ath Tholaq: 7)

Hampir sama dengan redaksi ayat yang kita tadaburi bersama, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً
“Bersama kesulitan, ada kemudahan.”[HR. Ahmad]

Tidak ada yang paling tepat janjinya selain Dzat yang pasti menepati janji-Nya. Allah Rabb semesta alam. Apa lagi yang kita ragukan? Tak ada manusia yang paling sempurna kejujurannya selain Rasulullah shallallahu Alaihi wassalam tercinta. Maka apa lagi yang kita sangsikan?


[1] Rumaysho.com

Jangan Sedih, Allah Bersama Kita


إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا ۖ فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَىٰ ۗ وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: "Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita". Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

(QS. At-Taubah ayat 40)

Sahabat,

Ayat ini mengisahkan kepada kita peristiwa yang terjadi di gua Tsur, ketika Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam dan sahabat beliau Abu Bakr tengah bersembunyi dari kejaran orang-orang Qurays yang hendak menangkap mereka.

Sang Nabi tercinta berkata kepada Abu Bakar dengan perkataan yang begitu menyejukan relung jiwa. La tahzan, Innallaha Ma’ana. Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”

Dan perkataan itu beliau ucapkan ketika orang-orang musyrik datang untuk mencari mereka berdua dan kala itu orang-orang musyrik tersebut berdiri di atas gua, maka berkatalah Abu Bakr karena mengkhawatirkan keselamatan Rasulullaah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, “Wahai Rasulullaah, seandainya salah satu dari mereka melihat ke kakinya, niscaya ia akan melihat kita.”

Rasulullaah menenangkan, “Wahai Abu Bakr, apa menurutmu jika ada dua orang, sementara Allah yang ketiganya?”.

Ketika itu, Allah memalingkan pandangan kaum musyrikin, sehingga mereka tidak melihat Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wa Sallam dan Abu Bakr, padahal mereka berdiri sangat dekat dengannya di atas gua. Allah subhanahu wata'ala membersamai mereka berdua dan sangat dekat pertolongan-Nya.

Sahabat,

Kebersamaan Allah subhanahu wata'ala ada dua macam.

Pertama, maiyyah ‘ammah atau kebersamaan secara umum, yang bermakna pemeliharaan dan pengawasan. Kebersamaan ini berlaku bagi orang kafir dan muslim, serta seluruh mahluk. Artinya, Allah subhanahu wata'ala meliputi mereka semua. Allah melihat mereka, mendengar dan mengetahui perihal mereka. Baik yang mereka terangkan ataupun yang mereka sembunyikan.

Kedua, maiyyah khashah atau kebersaman yang khusus dan kebersamaan ini adalah kebersamaan Allah dengan kaum mukminin, berupa pertolongan, penguatan, penjagaan, dan perlindungan-Nya bagi mereka.

Pada penggalan ayat di atas “(لا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا) kebersamaan di sini adalah kebersamaan khusus, yakni “Sesungguhnya Aku bersama kalian berdua.”

Hal ini pula yang dikatakan Allah subhanahu wata'ala kepada Musa dan Harun ketika mereka dikejar oleh Firaun dan bala tentaranya,

قَالَ لَا تَخَافَا إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَىٰ”[طه 46)
“Allah berfirman, ‘Janganlah kalian berdua takut, sesungguhnya Aku bersama kalian, Aku mendengar dan melihat.” (QS Thahaa:46)

Sahabat,

Lalu apa yang mesti kita khawatirkan dan kita takutkan? Bukankah Allah subhanahu wata'ala melalui ayat di atas telah memberi kita kabar gembira akan kebersamaan yang selalu Dia tawarkan untuk kita. Allah subhanahu wata'ala meliputi seluruh kehidupan kita, tak ada yang luput dari pengawasan-Nya.

Apa yang harus kita takutkan sementara Allah subhanahu wata'ala menjamin kita dengan kebersamaan-Nya. Selama kita membersamai Allah subhanahu wata'ala dengan amal shaleh dan ketakwaan, maka Allah subhanahu wata'ala akan membersamai kita dengan Penjagaan-Nya dan Pertolongan-Nya.

Oleh karena itu, jangan bersedih karena Allah subhanahu wata'ala bersama kita. Allah subhanahu wata'ala akan menolong kita dari jalan yang tidak pernah disangka-sangka seperti Allah menolong Musa dan Harun berserta Bani Israel seluruhnya dari kejaran Firaun dan Bala tentaranya.

Allah subhanahu wata'ala akan menolong kita di saat kita terjepit seperti pertolongan Allah subhanahu wata'ala kepada junjungan tercinta/ Muhammad shollallahu 'alaihi wasallam berserta Abu Bakar ash-Shidiq di dalam gua tsur yang mencekam.

Jangan bersedih, Allah selalu bersama kita.

Jangan Takut, Semua Atas Kehendak Allah


وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ ۚ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۚ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(QS. Yunus : 107)

Banyak diantara kita yang khawatir dengan masa depan yang masih menjadi misteri bagi kita. Sehingga timbul segudang Tanya; apakah masa depanku akan cerah atau suram, apakah di masa depan aku akan mendapatkan apa yang aku harapkan dan pertanyaan lainnya. Padahal masa depan itu adalah urusan Allah subhanahu wata'ala. Dan yang jelas Allah subhanahu wata'ala tidak akan menelantarkan hamba-Nya.

Ada juga diantara kita yang khawatir karena banyaknya permasalahan dan penderitaan yang bertubi-tubi datang. Sehingga tidak ada lagi harapan yang tersisa. Kita khawatir semua penderitaan itu akan selalu menghantam kita hingga akhir hayat kita. Padahal kesenangan dan kesusahan itu adalah atas kehendak Allah subhanahu wata'ala, sehingga kita tidak perlu merasa khawatir dengan itu semua.

Ada diantara kita yang khawatir karena banyaknya yang memusuhi dan banyaknya yang tidak senang dengan jalan kebenaran yang kita tempuh. Sehingga dada kita menjadi sempit. Kita jadi takut kalau-kalau kita akan celaka dengan makar orang-orang yang membenci kita. Padahal ada Allah subhanahu wata'ala yang bersama kita.

Yang harus kita ingat, bahwa apa pun yang terjadi itu atas kehendak Allah subhanahu wata'ala.  Kemudharatan atau kemaslahatan yang menimpa kita adalah kehendak Allah subhanahu wata'ala. Pun begitu, tidak ada seorang pun di muka bumi yang mampu mencelakai kita selama Allah tidak menghendakinya. Begitu juga sebaliknya, taka da seorang pun di muka bumi yang mampu memberi maslahat kepada kita selama Allah tidak mengizinkannya.

Intinya, kita harus selalu bertawakal dan berdoa kepada Allah subhanahu wata'ala, meminta-Nya untuk memberikan yang terbaik kepada kita. Yang terpenting, menganugerahkan kita kebaikan yang banyak dengan adanya iman dan islam yang kita pegang.

Bahagia dalam Keimanan (3)


قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Kami berfirman: "Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati".
(QS. Al-Baqoroh ayat 38)

Ayat ini adalah rangkaian dari kisah Adam dan Hawa yang dikeluarkan dari surga yang penuh dengan kenikmatan dan kesenangan hidup, pindah ke bumi yang menuntut untuk hidup mereka tak terlepas dari kerja keras dan perjuangan.

Kepadanya dibentangkan dua macam jalan.

Pertama, adalah jalan yang dapat mengantarkan kepada kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat yaitu dengan beriman kepada Allah subhanahu wata'ala  serta mengikuti petunjuk-petunjuk-Nya.

Kedua, jalan orang kafir dan durhaka terhadap-Nya menuruti bujukan-bujukan setan dan jalan ini akan membawa manusia kepada kerugian dan kesengsaraan hidup di dunia dan di akhirat kelak.

Barangsiapa mengikuti petunjuk-petunjuk Allah subhanahu wata'ala  yang disampaikan-Nya melalui rasul-rasul-Nya, maka mereka itulah yang akan memperoleh kebahagiaan dan ketenteraman. Terhadap mereka tak akan ada kekhawatiran apa pun dan mereka tak akan merasa sedih atas kejadian-kejadian yang menimbulkan kerugian harta benda atau pun kehilangan anggota keluarga dan sebagainya karena bagi orang-orang yang beriman teguh dan selalu berpegang kepada petunjuk-petunjuk Allah.

Bahagia Dalam Keimanan (2)


إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah” kemudian mereka istiqomah pada pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.” (QS. Fushilat: 30).

Ayat di atas menceritakan bahwa orang yang istiqomah dan teguh di atas tauhid dan ketaatan, maka malaikat pun akan memberi kabar gembira padanya ketika maut menjemput. Mujahid, ‘Ikrimah, dan Zaid bin Aslam menafsirkan ayat tersebut: “Janganlah takut pada akhirat yang akan kalian hadapi dan janganlah bersedih dengan dunia yang kalian tinggalkan yaitu anak, keluarga, harta dan tanggungan utang. Karena para malaikat nanti yang akan mengurusnya.” Begitu pula mereka diberi kabar gembira berupa surga yang dijanjikan. Dia akan mendapat berbagai macam kebaikan dan terlepas dari berbagai macam kejelekan.

Kemudian, Dari Abu ‘Amr atau Abu ‘Amrah Sufyan bin Abdillah, beliau berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ajarkanlah kepadaku dalam (agama) islam ini ucapan (yang mencakup semua perkara islam sehingga) aku tidak (perlu lagi) bertanya tentang hal itu kepada orang lain setelahmu.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Katakanlah:

قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ فَاسْتَقِمْ
“Aku beriman kepada Allah, kemudian beristiqamahlah dalam ucapan itu.”
Berkaitan dengan hadits ini, Ibnu Rajab mengatakan, “Wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini sudah mencakup wasiat dalam agama ini seluruhnya.”

Bahagia Karena Istiqomah dalam Keimanan


إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.

أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.
( QS. al-Ahqaf ayat 13-14 )

Orang yang beriman kepada Allah subhanahu wata'ala kemudian dia beristiqomah dengan imananannya, yakni tidak dicampuri oleh kesyirikan sedikit pun, dia menetapi garis-garis syariat yang telah Allah subhanahu wata'ala tentukan, maka tidak ada rasa khawatir yang akan menjangkiti perasaan mereka. Mereka juga tidak merasa sedih karena keimanan itu telah menyepuh hati mereka dari segala gundah gulana.

Gangguan orang-orang yang tidak senang dengan keimannan mereka, tidak membuat mereka menjauh dari Allah subhanahu wata'ala. Justru mereka semakin dekat dengan Allah subhanahu wata'ala. Semakin berat ujian atau siksaan yang menimpa, maka semakin istiqomah mereka berada di jalan-Nya.

Mereka juga tidak merasa sedih dari apa yang hilang dari mereka. Karena mereka yakin bahwa penderitaan itu tidak ada apa-apanya dibanding balasan Allah subhanahu wata'ala di akhirat kelak.

Pandangan Ulama Tentang Istiqomah

Istiqomah adalah tegak berdiri di atas prinsip kebenaran yang diyakininya. Istiqamah merupakan sikap hidup yang mampu berdiri di atas prinsip tauhid dan mendorong dirinya untuk senantiasa konsisten dengan prinsip itu dalam kondisi dan situasi apapun.

Istiqomah dapat melekat dalam diri seorang muslim apabila ia telah benar-benar beriman dan seluruh hidupnya diabdikan untuk keimanan yang telah dia pegang. Sehingga menafikan segala sesuatu selain iman kepada Allah. Karena itu dapatlah dikatakan bahwa istiqomah merupakan implementasi dari keimanan kepada Allah yang melahirkan penyerahan diri secara total kepada-Nya. Dengan demikian apapun yang dihadapinya tidak akan merubah prinsip hidup itu

Kata "Istiqomah" secara bahasa berarti Tegak dan Lurus. Sedangkan secara Istilah, para salafus shalih memberikan beberapa definisi, diantaranya :

1. Abu Bakar Ash Shiddiq radhiallahu 'anhu :
"Hendaknya kamu tidak menyekutukan Allah dengan apapun juga".

2. Umar bin Khattab radhiallahu 'anhu :
 "Hendaknya kita bertahan dalam satu perintah atau larangan, tidak berpaling seperti berpalingnya seekor musang".

3. Utsman bin Affan radhiallahu 'anhu : "Istiqomah artinya ikhlas".

4. Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu:"Istiqomah adalah melaksanakan kewajiban".

5. Ibnu Abbas radhiallahu 'anhu:"Istiqomah mengandung 3 macam arti : Istiqomah dengan lisan (yaitu bertahan terus mengucapkan kalimat syahadat), istiqomah dengan hati (artinya terus melakukan niat yang jujur) dan istiqomah dengan jiwa (senantiasa melaksanakan ibadah dan ketaatan secara terus-menerus).

6. Ar Raaghib :"Tetap berada di atas jalan yang lurus".
7. Imam An Nawawi :"Tetap alam ketaatan". Sehingga Istiqomah mengandung pengertian : "tetap dalam ketaatan dan di atas jalan yang lurus dalam beribadah kepada Allah 'Azza wa Jalla".

8. Mujahid :“Istiqamah adalah komitmen terhadap syahadat tauhid sampai bertemu dengan Allah Taala”.

9. Ibnu Taimiah :“Mereka beristiqamah dalam mencintai dan beribadah kepada-Nya tanpa menoleh kiri kanan”.Dengan kata lain istiqomah mengandung suatu arti mendalam dalam beribadah kepada-Nya, mencintai sepenuh hati dalam mencari Ridha-Nya.

Mukmin itu Lebih Unggul



وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.
(QS. Ali Imran ayat 139)



Kenapa Harus Rendah Diri?

Betapa banyak kita melihat kaum muslimin yang rendah diri (inferior) di hadapan orang-orang kafir dengan segala kelebihan yang mereka miliki. Padahal jika mereka memahami hakikat yang sesungguhnya, justru umat muslim itu lebih utama dari orang kafir karena keimanan mereka.

Tapi begitulah kenyataannya, ada pelajar muslim yang study ke eropa atau ke amerika, mereka kagum dengan professor di sana dan mengamini semua yang diucapkan guru besar mereka. Menjadi pengekor semua pemikiran rancu. Mereka lebih bangga belajar islam kepada orang-orang kafir dibanding belajar islam kepada para ulama. Lihatlah hasilnya, lahir kader-kader sekuler nan liberal yang membeli kesenangan hidup dengan aqidah yang tidak ternilai harganya.

Kemudian mereka kembali ke berbagai penjuru negeri kaum muslimin dengan membawa paham-paham yang menyesatkan.

Kita lihat bagaimana segelintir kaum muslimin rela menggadaikan ideology dan prinsip hidupnya demi mendapat ridho orang-orang kafir. Kita juga bisa melihat bagaimana orang-orang yang mengaku mukmin tapi pesimis dengan masa depan, hanya karena melihat orang kafir yang selangkah lebih maju dari kaum beriman.  Kemudian mereka membuat satu kesimpulan kacau bahwa umat ini akan maju selama tidak konservatif dan jumud. Umat ini akan bertransformasi menjadi umat yang disegani jika mampu melepaskan diri dari ikatan-ikatan syariat yang mereka anggap ‘mengekang.’

Mereka berkesimpulan bahwa Eropa dan Amerika bisa maju dan berperadaban karena mereka telah mampu memisahkan urusan agama dengan kehidupan mereka.

Benarkah?

Memang sekilas syubhat yang dilontarkan Nampak benar adanya. Tapi sungguh sangat keliru. Bangsa barat maju bukan hanya karena factor menjauhnya mereka dari agama. Karena bagi kita tidak ada bedanya apakah mereka mendekat kepada agama atau menjauh dari agama, toh  itu tak ada bedanya. Karena aqidah mereka aqidah trinitas, bukan aqidah Tauhid yang telah menjamin kebahagiaan dunia akhirat.

Bangsa Barat bisa maju karena mereka memiliki system dan prilaku yang baik. Mereka memiliki tata kehidupan yang tertib dengan disiplin yang tinggi.

Berbeda dengan umat Islam yang saat ini cenderung meninggalkan aturan dan tata nilai dalam kehidupannya. Sehingga kita bisa melihat Negara-negara kafir lebih beradab dan bersih dibanding Negara-negara muslim.

Maka yang salah bukan islam, tapi kita yang telah mencampakan nilai-nilai dan keteraturan yang telah diajarkan islam. Benarlah apa yang dikatakan oleh Abul A’la al-Maududi. Al-islamu mahjubul bil muslim. Islam terhalang oleh kaum muslimin. Ya, kaum muslimin yang tidak mencerminkan dirinya sebagai seorang beriman.

Jangan salahkan islam, tapi salahkan diri kita yang tidak bisa memberi bukti bahwa umat islam itu umat yang beradab. Kita yang seharusnya bertanggung jawab ketika aturan-aturan dan akhlak islam dicampakan.

Jika seorang mukmin sudah menjalankan aturan islam dengan baik, maka dia akan menjadi manusia yang baik. Jika seorang mukmin yang belum menunjukan diri sebagai manusia yang baik, berarti dia belum memahami agamanya dengan baik. Sesederhana ini, sehingga tidak ada lagi yang berkoar-koar bahwa penyebab keterbelakangan umat islam karena mereka terlalu ‘konservatif’ terhadap ajaran agama.

Padahal jika kita telisik sejarah, justru orang-orang kafir  (baca: bangsa Eropa) itu berperadaban setelah berinteraksi dengan kaum mukminin di abad pertengahan.

Dalam sejarah Islam, kebudayaan dan pemikiran Muslim berkembang sangat baik di era kekhalifahan. Ilmuwan-ilmuwan Muslim lahir di masa Dinasti Ummayah dan Abbasyiah, lalu berlanjut hingga ke Kekhalifahan Utsmaniyah. Saat kekuasaan Islam menguasai Andalusia, misalnya, wilayah ini diubah jadi tempat paling maju dan paling berperadaban di daratan Eropa. Bahkan disebutkan bahwa cordoba sebagai kota metropolitan pertama di dunia. Dimana masa itu Eropa berada dalam masa kegelapan yang tidak mengenal peradaban.

Apakah ilmuwan Muslim itu mengabaikan agama? Tidak. Ilmuwan seperti Al-Biruni menelaah ayat-ayat al-Qur’an tentang alam semesta untuk menulis karya-karyanya. Demikian pula Ibnu Sina yang tak melepaskan dirinya dari al-Qur’an saat menulis kitab-kitab kesehatan serta beberapa karya di bidang astronomi dan astrologi. Sebutkan nama lebih banyak, dan mereka lahir di era di mana kekuasaan Islam tengah berjaya. Di masa ajaran al-Qur’an ditegakkan!

Jangan tanya soal toleransi di masa itu. Sejak era Rasulullah etika berperang kaum Muslim sudah digariskan. Salah satu larangannya adalah merusak rumah ibadah. Garis bawahi ini, dilarang merusak rumah ibadah. Tidak disebut apakah itu gereja, sinagog, atau kuil. Malah khalifah-khalifah Islam melindungi kaum Kristen, Yahudi, juga penganut paganisme yang berada di wilayah kekuasaannya.

Berkaca dari Kisah Rib’I bin Amr Ats-Tsaqafi radiyallahu anhu

Seharusnya kita tidak silau dengan apa pun yang kita lihat dan kita anggap sebagai ‘kelebihan’ dari orang-orang kafir. Karena semua kelebihan mereka itu tidak ada nilainya jika dibandingkan dengan keimanan yang ada di dada-dada kita.

Marilah kita simak sejenak kisah menakjubkan dari seorang sahabat bernama Rib’I bin Amr Ats-Tsaqafi radiyallahu anhu.

Sebelum terjadi peperangan Qadisiyah antara tentara Muslimin pimpinan Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu dengan tentara Persia pimpinan Rustam, Sa’ad terlebih dulu mengirim utusan kepada Rustam beberapa kali. Di antara utusan tersebut adalah Rib’i bin ‘Amir Ats-Tsaqafi radhiyallahu ‘anhu.

Maka Rib’i pun segera masuk menemui Rustam sementara mereka telah menghiasi pertemuan itu dengan bantal-bantal yang dirajut dengan benang emas, serta permadani-permadani yang terbuat dari sutera. Mereka mempertontonkan kepadanya berbagai macam perhiasan berupa yaqut, permata-permata yang mahal, dan perhiasan lain yang menyilaukan mata, sementara Rustam memakai mahkota dan sedang duduk di atas ranjang yang terbut dari emas.

Berbeda keadaannya dengan Rib’i. Beliau masuk dengan hanya mengenakan baju yang sangat sederhana, dengan pedang, perisai, dan kuda yang pendek. Rib’i masih tetap di atas kudanya hingga menginjak ujung permadani. Kemudian beliau turun serta mengikatkan kuda tersebut di sebagian bantal-bantal yang terhampar. Setelah itu beliau langsung masuk dengan senjata, baju besi, dan penutup kepalanya.

Mereka berkata,”Letakkan senjatamu!”

Rib’I menjawab,”Aku tidak pernah berniat mendatangi kalian tetapi kalianlah yang mengundangku datang kemari. Jika kalian memerlukanku maka biarkan aku masuk dalam keadaan seperti ini. Jika tidak kalian izinkan, maka aku akan segera kembali.”

Rustam berkata,”Biarkan dia masuk.”

Maka Rib’i datang sambil bertongkat dengan tombaknya dalam keadaan posisi ujung tombak ke bawah sehingga bantal-bantal yang dilewatinya penuh dengan lubang-lubang bekas tombaknya.

Mereka bertanya bertanya kepada Rib’i,”Apa yang membuat kalian datang ke sini?”

Beliau menjawab  dengan kepercayaan diri yang begitu purna,

“Allah telah mengutus kami untuk mengeluarkan siapa saja yang Dia kehendaki dari penghambaan terhadap sesama hamba kepada penghambaan kepada Allah, dari kesempitan dunia kepada keluasannya, dari kezhaliman agama-agama kepada keadilan Al-Islam. Maka Dia mengutus kami dengan agama-Nya untuk kami seru mereka kepadanya. Maka barangsiapa yang menerima hal tersebut, kami akan menerimanya dan pulang meninggalkannya. Tetapi barangsiapa yang enggan, kami akan memeranginya selama-lamanya hingga kami berhasil memperoleh apa yang dijanjikan Allah”

Mereka bertanya,”Apa yang dijanjikan Allah (kepada kalian)?”

Beliau menjawab,”Surga bagi siapa saja yang mati dalam memerangi orang-orang yang enggan dan kemenangan bagi yang hidup.”

Rustam pun berkata,” Sungguh aku telah mendengar perkataan-perkataan kalian. Tetapi maukah kalian memberi tangguh perkara ini sehingga kami mempetimbangkannya dan kalian pun mempertimbangkannya?”

Beliau menjawab,”Ya, berapa lama waktu yang kalian sukai? sehari atau dua hari?”

Rustam menjawab,”Tidak, tetapi hingga kami menulis surat kepada para petinggi kami dan para pemimpin kaum kami.”

Maka beliau pun menjawab,”Rasul kami tidak pernah mengajarkan kepada kami untuk menangguhkan peperangan semenjak bertemu musuh lebih dari tiga (hari). Maka pertimbangkanlah perkaramu dan mereka, dan pilihlah satu dari tiga pilihan apabila masa penangguhan telah berakhir.”

Rustam bertanya,”Apakah kamu pemimpin mereka?”

Beliau menjawab,”Tidak, tetapi kaum muslimin ibarat jasad yang satu. Yang paling rendah dari mereka dapat memberikan jaminan keamanan terhadap yang paling tinggi.”

Maka (akhirnya) Rustam mengumpulkan para petinggi kaumnya kemudian berkata,”Pernahkah kalian melihat (walau sekali) yang lebih mulia dan lebih benar dari perkataan lelaki ini?”

Mereka menjawab,”Kami minta perlindungan dari Tuhan supaya engkau tidak terpengaruh ajakan ini dan dari menyeru agamamu kepada agama anjing ini. Tidakkah engkau melihat pakaian yang dia pakai?”

Rustam menjawab,”Celaka kalian! Janganlah kalian melihat kepada pakaian. Akan tetapi lihatlah kepada pendapat, perkataan, dan jalan hidupnya! Sesungguhnya orang ‘Arab menganggap ringan masalah pakaian dan makanan. Tetapi mereka menjaga harga diri mereka.”

Subhanallah, lihatlah bagaimana sikap Rib’i bin Amir ats-Tsaqafi radiyallahu anhu di hadapan Rustam dan para pembantunya yang gemerlap dengan kemewahan yang mereka pamerkan. Sungguh naif jika ada kaum mukmin zaman sekarang yang begitu silau dengan kekayaan dan kejayaan orang kafir. Jika rasa rendah diri ini menguasai relung hati, maka bisa saja kita menjadi ummat yang bermental budak. Hidup di bawah ketiak orang-orang kafir yang memaksakan undang-undang dan keinginan mereka. Sehingga kita hidup di bawah baying-bayang mereka.

Kemudian mereka menjajah ideology dan ekonomi kita dan kita dijadikan anjing-anjing peliharaan untuk membasmi saudara seiman yang masih teguh memegang harga diri. Naudzubillah

Unggul Karena Iman

Kita sebagai mukmin bisa unggul dari umat-umat yang lain selama kita memegang teguh keimanan dan ideology kita yang hanif. Kita akan mengalahkan orang-orang kafir selama kita komit dengan tata kehidupan yang islami. Karena dengan berimannya kita, maka kita akan mendapatkan ridho Allah subhanahu wata'ala. Dengan berimannya kita, maka Allah subhanahu wata'ala akan memenangkan kita diantara ummat-ummat yang lainnya. Dan ini adalah janji Allah subhanahu wata'ala di dalam ayat ini.

Boleh jadi keterpurukan umat islam dewasa ini adalah karena jauhnya mereka dari system hidup yang islami. Muslim yang jauh dari al-quran dan sunnah (tidak mengamalkan hukum-hukumnya dan lebih memilih hukum buatan manusia), maka Allah akan menjauhkan mereka dari kemuliaan. Kita tak ubahnya seperti bangsa pengemis diantara umat-umat kafir.

Umar bin Khattab radiyallahu anhu pernah menulis sebuah surat berisi pesan untuk Sa’ad bin Abi Waqash ra. beserta pasukannya yang sedang pergi memerangi Persia di daerah Qadisiyah. Pesan ini bukan tentang strategi dan taktik perang, tapi tentang menjauhi kemaksiatan. Umar radiyallahu anhu menyatakan bahwa menjauhi kemaksiatan adalah kunci turunnya kemenangan dari Allah subhanahu wata'ala

Begini isi dari surat beliau:

“Amma Ba’du. Aku memerintahkanmu dan seluruh anggota pasukan untuk bertakwa kepada Allah subhanahu wata'ala dalam setiap keadaan. Karena takwa kepada Allah subhanahu wata'ala  adalah senjata yang paling kuat dan strategi yang paling jitu untuk mengalahkan musuhmu.
Aku memerintahkanmu dan seluruh anggota pasukanmu untuk berhati-hati terhadap perbuatan maksiat, lebih dari hati-hati kalian terhadap musuhmu. Karena maksiat yang kalian perbuat lebih aku khawatirkan daripada kekuatan pasukan musuh.
Allah subhanahu wata'ala  memberikan kemenangan kepada pasukan Islam disebabkan musuh-musuhnya yang berbuat kemaksiatan. Kalau bukan karena itu, niscaya pasukan Islam tidak akan berdaya menghadapi pasukan musuh. Karena jumlah pasukan Islam tak seberapa dibanding jumlah pasukan musuh; persenjataan pasukan Islam pun tak ada apa-apanya dibandingkan persenjataan musuh. Sehingga seandainya pasukan Islam dan pasukan musuh sama-sama berbuat maksiat, maka pasukan musuh akan menang karena mereka lebih kuat dari segi jumlah dan senjata. Jika pasukan Islam tidak berbuat maksiat, maka pasukan Islam akan menang, karena keshalihan mereka, bukan karena kekuatan mereka.
Kemudian ketahuilah, selama perjalanan kalian, Allah subhanahu wata'ala mengirim para malaikat yang akan mengawasi. Mereka mengetahui apa yang kalian lakukan. Maka teruslah merasa malu kepada mereka. Janganlah kalian bermaksiat kepada Allah subhanahu wata'ala ,padahal kalian sedang berada dalam jalan-Nya.
Janganlah kalian berkata bahwa kalian pasti akan menang karena musuh-musuh pasti lebih buruk dari kalian, sehingga mereka tidak akan mungkin menguasai kalian. Karena sangat mungkin sebuah kaum dikuasai oleh kaum yang buruk. Seperti Bani Israel yang dikuasai oleh kaum Majusi. Bisa demikian karena karena Bani Israel telah melakukan hal-hal yang membuat Allah subhanahu wata'ala  murka. 
Mohonlah kepada Allah subhanahu wata'ala  agar menolong kalian melawan jiwa kalian, sama seperti kalian memohon pertolongan dalam melawan musuh-musuh kalian. Aku juga memohon hal itu untukku dan untuk kalian.”

Nah, jelaslah bagi kita bahwa kunci kemenangan, kebahagiaan, kekuatan, kejayaan dan kemuliaan adalah dengan kembali kepada al-quran dan sunnah, menjauhi maksiat yang mendatangkan murka-Nya dan tentu saja jihad dengan semua kemampuan dan sarana yang dikerahkan. Karena jelaslah bagi kita, bahwa Allah subhanahu wata'ala melarang kita dari sikap lemah dan sedih hati. Karena keimanan akan selalu berjalan seiring dengan kejayaan.