• “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 5) Read more
  • Syukurmu, Untuk Kemaslahatanmu

    “Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, "Bersyukurlah kepada Allah! Dan barang siapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Lukman ayat 12)” Read more
  • Kehendak

    “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS.ar-Ra’d:11) Read more
  • Berkah Syukur

    ““Dan ingatlah tatkala Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, Kami pasti akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku maka sesungguhnya adzab-Ku amatlah pedih’.” (QS. Ibrohim: 7) Read more
  • Kehendak

    “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS.ar-Ra’d:11) Read more
  • Jangan Berputus Asa

    “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah swt. Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’alamengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS. Az Zumar: 53-54).Read more
Tampilkan postingan dengan label Renungan Ayat. Tampilkan semua postingan

Musibah itu Bisa Jadi Karena Ulah kita

Musibah itu Bisa Jadi Karena Ulah kita

مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ ۚ وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُولًا ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا

Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.
[Quran surat an-Nisa ayat 79

Semua Karena Ulah Kita

Kejadian demi kejadian yang menimpa kaum muslimin akhir-akhir ini membuat kita miris dan bertanya-tanya. Kenapa semua ini terjadi?

Kenapa umat Islam berjalan ditempat sementara umat lain maju?

Kenapa umat Islam selalu berkelahi antar sesamanya sementara musuh-musuh Allah sedang menggalang persatuan?

Kenapa kita menjadi orang-orang yang lemah sementara mereka menjadi kelompok yang kuat?

Bukankah kita bersama kebenaran? Bukankah kita melakukan kebaikan?

Pertanyaan-pertanyaan ini terus muncul dan menjadi fenomena yang mengherankan.

Namun Al-Qur’an telah menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dalam firman-Nya ketika menceritakan kisah perang Uhud,

أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّىٰ هَٰذَا ۖ قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Dan mengapa kamu (heran) ketika ditimpa musibah (kekalahan pada Perang Uhud), padahal kamu telah menimpakan musibah dua kali lipat (kepada musuh-musuhmu pada Perang Badar) kamu berkata, “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah, “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.” Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS.Ali ‘Imran:165)

Ternyata jawaban Allah adalah bahwa kekalahan dan segala sesuatu yang menimpa kalian adalah karena ulah kalian sendiri !

Kita mengetahui dalam sejarah perang uhud, mereka hanya sekali saja melanggar perintah Rasulullah saw. Pasukan pemanah diperintahkan untuk tidak turun dari bukit apapun yang terjadi. Tapi mereka turun sebelum waktunya dan akhirnya terjadi sedikit kekalahan. Sementara di perang Badar mereka dapat menang mutlak dengan pasukan yang sedikit dengan senjata yang minim.

Memang semua yang terjadi pada kaum muslimin dan semua musibah yang menimpa kita penyebabnya adalah tingkah laku kita sendiri.

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS.Asy-Syura:30)

Itupun Allah masih banyak memaafkan kesalahan-kesalahan kita. Jika tidak, kondisi kita akan lebih terpuruk dari kondisi sekarang.

Tidak ada sesuatu yang terjadi kecuali karena kesalahan dan pelanggaran kita. Sebagaimana dalam ayat lain Allah berfirman,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.” (QS.Ar-Rum:41)

Karena itu jangan selalu teriak kenapa dan kenapa. Tapi mari kita renungkan, bila sekali saja melanggar perintah nabi bisa terjadi kekacauan seperti dalam perang Uhud, Lalu apa yang mampu kita bayangkan pada diri kita dan pada umat ini?

Berapa syariat yang kita tinggalkan? Berapa banyak perintah Nabi yang kita abaikan?

Ayo kita kembali kepada syariat dan ketentuan Allah lalu nantikan perubahan dahsyat yang akan terjadi pada umat ini.

Semoga bermanfaat…

Sumber: Khazanahquran.com

Jalan Rezeki Yang Digambarkan Dalam Al-Qur’an


MANUSIA seringkali melihat rezeki hanya persoalan uang yang dihasilkan dari jerih payah dia bekerja, padahal rezeki Allah itu teramat luas. Dikutip dari Persis.or.id, dalam Al-Quran, setidaknya disebutkan ada 8 jalan rezeki yang Allah berikan untuk hamba-hambanya. Apa sajakah itu?

1. Rezeki Yang Telah Dijamin

“Tidak ada satu mahluk melatapun yang bergerak di atas bumi ini yang tidak dijamin Allah rezekinya”
(Q.S.11:6)

Contoh : Meskipun seorang anak yatim piatu tidak memiliki orangtua, namun ia akan tetap hidup sampai besar dirawat panti asuhan atau diadopsi oleh keluarga lain

2. Rezeki Karena Usaha

“Tidaklah manusia mendapatkan apa-apa kecuali apa yang dikerjakannya” (Q.S.53:39)

Contoh : Karena keuletan dalam usaha, kini bangsa Turki bisa makmur, padahal alamnya tidak begitu kaya.

3. Rezeki Karena Bersyukur

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu” (Q.S.14:7)

Contoh : Brunei Darusalam baru-baru ini menerapkan syariat islam sebagai rasa syukur kepada Allah atas nikmatNya, maka mereka kini menemukan ladang gas baru kapasitas miliaran kubik.

4. Rezeki Tak Terduga

Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya”
(QS. At Thalaq :2)

Contoh : Karena ketaqwaan penduduk Mekkah dan Madinah, siapa sangka minyak dan gas berada dibawah tanah Hijaz (Arab Saudi).

5. Rezeki Karena Istighfar

“Beristighfarlah kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, pasti Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta” (QS. 71 : 10-11)

Contoh : Kaum Nabi Yunus, setelah mereka bertobat maka Allah karuniakan kemakmuran bagi mereka sampai 40 tahun, riwayat lain mengatakan 80 tahun lamanya.

6. Rezeki Karena Menikah

“Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak dari hamba sahayamu baik laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, maka Allah akan memberikan kemapanan kepada mereka dengan karunia-Nya.” (QS. an-Nur : 32)

Contoh : Ketika masih bujangan, Abdurrahman bin Auf r.a hanya seorang penjual tali, namun setelah menikah ia menjadi pengusaha besar owner pasar Madinah.

7. Rezeki Karena Anak

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang akan menanggung rezeki mereka dan juga (rezeki) bagimu.” (QS. al-Isra 31)

Contoh : Yakub waktu mudanya hijrah dari rumahnya dan menjadi pengembala kambing, setelah menikah dan memiliki 12 anak, justru kambing-kambingnya juga makin bertambah banyak.

8.Rezeki Karena Sedekah

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (infak & sedekah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipatan yang banyak” (QS. Al Baqarah 245)

Contoh : kedermawanan Utsman bin Affan r.a hingga kini masih ada warisannya dan tabungannya masih tersimpan di no.rekening Bank syariah Arab Saudi 

[Sumber: Islampos]

9 Akibat Bagi Mereka yang Berpaling dari Kebenaran


Banyak alasan mengapa manusia berpaling dari kebenaran. Namun kebanyakan hal itu terjadi karena ia merasa tidak butuh dengan Allah swt. Kesombongan itulah yang menjauhkannya dari kebenaran sejati.

ثُمَّ أَدْبَرَ وَاسْتَكْبَرَ

“Kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri.” (QS.al-Muddatsir:23)

Namun disisi lain, Al-Qur’an telah berjanji akan ada balasan yang bermacam-macam bagi mereka yang menolak kebenaran. Apa saja balasan tersebut?

1. Kegelisahan dalam hidup.

اسْتَهْوَتْهُ الشَّيَاطِينُ فِي الْأَرْضِ حَيْرَانَ

“Orang yang telah disesatkan oleh setan dibumi dalam keadaan kebingungan.” (QS.al-An’am:71)

2. Hati terasa sempit.

يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا

“Dia (Allah) jadikan dadanya sempit dan sesak.” (QS.al-An’am:125)

3. Cobaan berupa kehidupan yang susah.

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.” (QS.Thaha:124)

4. Kelak hidupnya penuh dengan masalah dan buruknya nasib.

إِنَّ الْخِزْيَ الْيَوْمَ وَالسُّوءَ عَلَى الْكَافِرِينَ

“Sesungguhnya kehinaan dan azab pada hari ini ditimpakan kepada orang yang kafir.” (QS.an-Nahl:27)

5. Dirinya tercegah untuk menggunakan kenikmatan dan fasilitas Allah dengan cara yang baik.

خَتَمَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰ أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ

“Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, penglihatan mereka telah tertutup.” (QS.al-Baqarah:7)

6. Amal perbuatannya bagaikan fatamorgana di tanah yang gersang. Atau seperti abu yanv tertiup angin. Sama sekali tak bernilai.

أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ

“Amal perbuatan mereka seperti fatamorgana di tanah yang datar.” (QS.an-Nur:39)

أَعْمَالُهُمْ كَرَمَادٍ اشْتَدَّتْ بِهِ الرِّيحُ فِي يَوْمٍ عَاصِفٍ

“Amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang.” (QS.Ibrahim:18)

7. Setiap saat akan mengalami kerugian demi kerugian.

وَلَا يَزِيدُ الْكَافِرِينَ كُفْرُهُمْ إِلَّا خَسَارًا

“Dan kekafiran orang-orang kafir itu hanya akan menambah kerugian mereka belaka.” (QS.Fathir:39)

8. Semakin jauh dari jalan Allah.

ضَلُّوا ضَلَالًا بَعِيدًا

“Benar-benar telah sesat sejauh-jauhnya.” (QS.an-Nisa’:167)

9. Tidak ada jalan bagi mereka kecuali jalan menuju neraka Jahannam.

وَلَا لِيَهْدِيَهُمْ طَرِيقًا – إِلَّا طَرِيقَ جَهَنَّمَ

“(Allah) Tidak akan menunjukkan jalan kepada mereka, kecuali jalan ke neraka Jahannam.” (QS.an-Nisa’:168-169)

Itulah sebagian akibat dari orang-orang yang berpaling dan menolak kebenaran. Karena itu Rasulullah saw mengajarkan kepada kita untuk selalu membaca doa berikut ini, agar hati kita tidak berpaling dari dijalan-Nya.

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْب ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ

“Duhai yang membolak-balikkan hati, tetapkan hati kami diatas agama-Mu…”

Semoga Allah menetapkan hati kita untuk selalu berada di jalan-Nya.

[Khazanahalquran.com]

Renungan Syukur


Allah berfirman,

وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
"Dan sangat langka hamba-hambaKU yang [pandai] bersyukur." (Qs. As-Saba': 13)

Seringkali kita bersyukur atas kenikmatan Allah SWT yang tidak terlampau sering. Misalnya THR akhir tahun, mendapat hadiah dari kawan kita, atau selamat dari kecelakaan. 

Sayangnya, karena begitu banyak kenikmatan Allah SWT kepada kita, kita lupa bersyukur atas kenikmatan-kenikmatan yang rutin kita rasakan dan nikmati tiap detik, tiap menit, tiap jam, dan tiap hari.

Ada kenikmatan mata, telinga, gaji bulanan, penghasilan harian, kesehatan, dan sekian kenikmatan yang tidak bisa dihitung satu persatu. Seringkali kenikmatan-kenikmatan ini, jarang kita syukuri.

Padahal, sungguh sangat besar nilainya dalam kehidupan kita. Berulangkali, kita baru menyadari besarnya kenikmatan ini, saat kenikmatan tersebut absent dari diri kita.

Semoga kita termasuk hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur. Walau mereka yang pandai bersyukur itu jumlahnya sangat sedikit. 

Jangan menyamakan Allah dengan makhluk-Nya

Allah ta'ala berfirman,

فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

"Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui"._ [al-Baqarah: 22].

Dari sahabat Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma, beliau menyampaikan،

أن رجلاً قال للنبي صلى الله عليه وسلم: ما شاء الله وشئت، فقال: ((أجعلتني لله نداً؟ ما شاء الله وحده))

"Ada seorang yang berkata kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, 'Sesuai dengan kehendak Allah dan kehendakmu'. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, 'Apakah engkau ingin menjadikan aku sebagai tandingan untuk Allah?!' Cukup katakan sesuai kehendak Allah semata"._ [Shahih. HR. Ahmad; al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad; an-Nasaai dalam as-Sunan al-Kubra].

Catatan:
Termasuk ucapan yang terlarang dalam hal ini adalah ucapan seperti:

  • Harapanku hanya tertambat kepada Allah dan dirimu.
  • Untuk yang berada di langit kugantungkan harapanku kepada Allah, sedangkan untuk yang berada di muka bumi kutambatkan harapanku kepadamu.
  • Aku bertawakkal dan bersandar kepada Allah dan kepada dirimu.
  • dan ucapan-ucapan semisal yang hukumnya termasuk syirik ashghar.

Dunia Bagai Air Hujan


Permisalan kehidupan dunia layaknya air

وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ 

"Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit"._ [al-Kahfi: 45].

Alim ulama mengemukakan alasan mengapa Allah menyerupakan kehidupan dunia dengan air. Alasan tersebut adalah:

1. Air tak bisa menetap pada satu tempat. Demikian pula kondisi dunia yang tidak statis, tetap pada satu kondisi.

2. Air akan habis, tak tersisa. Begitu pula dunia, sifatnya fana lagi tak kekal.

3. Tidak ada seorang pun yang masuk ke dalam air tanpa basah sedikit pun. Demikian pula dunia, tak ada yang mampu selamat dari fitnah dan godaannya.

4. Air dalam kadar yang tepat akan bermanfaat dan menyuburkan. Namun, jika berlebih mampu membahayakan dan membinasakan. Seperti kehidupan dunia, akan bermanfaat jika dinikmati secukupnya. Namun, akan mencelakakan jika larut di dalamnya.

Sumber: al-Jami' li Ahkam al-Quran karya al-Qurthubi