• “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 5) Read more
  • Syukurmu, Untuk Kemaslahatanmu

    “Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, "Bersyukurlah kepada Allah! Dan barang siapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Lukman ayat 12)” Read more
  • Kehendak

    “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS.ar-Ra’d:11) Read more
  • Berkah Syukur

    ““Dan ingatlah tatkala Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, Kami pasti akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku maka sesungguhnya adzab-Ku amatlah pedih’.” (QS. Ibrohim: 7) Read more
  • Kehendak

    “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS.ar-Ra’d:11) Read more
  • Jangan Berputus Asa

    “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah swt. Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’alamengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS. Az Zumar: 53-54).Read more

Jangan Takut, Semua Atas Kehendak Allah


وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ ۚ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۚ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(QS. Yunus : 107)

Banyak diantara kita yang khawatir dengan masa depan yang masih menjadi misteri bagi kita. Sehingga timbul segudang Tanya; apakah masa depanku akan cerah atau suram, apakah di masa depan aku akan mendapatkan apa yang aku harapkan dan pertanyaan lainnya. Padahal masa depan itu adalah urusan Allah subhanahu wata'ala. Dan yang jelas Allah subhanahu wata'ala tidak akan menelantarkan hamba-Nya.

Ada juga diantara kita yang khawatir karena banyaknya permasalahan dan penderitaan yang bertubi-tubi datang. Sehingga tidak ada lagi harapan yang tersisa. Kita khawatir semua penderitaan itu akan selalu menghantam kita hingga akhir hayat kita. Padahal kesenangan dan kesusahan itu adalah atas kehendak Allah subhanahu wata'ala, sehingga kita tidak perlu merasa khawatir dengan itu semua.

Ada diantara kita yang khawatir karena banyaknya yang memusuhi dan banyaknya yang tidak senang dengan jalan kebenaran yang kita tempuh. Sehingga dada kita menjadi sempit. Kita jadi takut kalau-kalau kita akan celaka dengan makar orang-orang yang membenci kita. Padahal ada Allah subhanahu wata'ala yang bersama kita.

Yang harus kita ingat, bahwa apa pun yang terjadi itu atas kehendak Allah subhanahu wata'ala.  Kemudharatan atau kemaslahatan yang menimpa kita adalah kehendak Allah subhanahu wata'ala. Pun begitu, tidak ada seorang pun di muka bumi yang mampu mencelakai kita selama Allah tidak menghendakinya. Begitu juga sebaliknya, taka da seorang pun di muka bumi yang mampu memberi maslahat kepada kita selama Allah tidak mengizinkannya.

Intinya, kita harus selalu bertawakal dan berdoa kepada Allah subhanahu wata'ala, meminta-Nya untuk memberikan yang terbaik kepada kita. Yang terpenting, menganugerahkan kita kebaikan yang banyak dengan adanya iman dan islam yang kita pegang.

Bahagia dalam Keimanan (3)


قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Kami berfirman: "Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati".
(QS. Al-Baqoroh ayat 38)

Ayat ini adalah rangkaian dari kisah Adam dan Hawa yang dikeluarkan dari surga yang penuh dengan kenikmatan dan kesenangan hidup, pindah ke bumi yang menuntut untuk hidup mereka tak terlepas dari kerja keras dan perjuangan.

Kepadanya dibentangkan dua macam jalan.

Pertama, adalah jalan yang dapat mengantarkan kepada kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat yaitu dengan beriman kepada Allah subhanahu wata'ala  serta mengikuti petunjuk-petunjuk-Nya.

Kedua, jalan orang kafir dan durhaka terhadap-Nya menuruti bujukan-bujukan setan dan jalan ini akan membawa manusia kepada kerugian dan kesengsaraan hidup di dunia dan di akhirat kelak.

Barangsiapa mengikuti petunjuk-petunjuk Allah subhanahu wata'ala  yang disampaikan-Nya melalui rasul-rasul-Nya, maka mereka itulah yang akan memperoleh kebahagiaan dan ketenteraman. Terhadap mereka tak akan ada kekhawatiran apa pun dan mereka tak akan merasa sedih atas kejadian-kejadian yang menimbulkan kerugian harta benda atau pun kehilangan anggota keluarga dan sebagainya karena bagi orang-orang yang beriman teguh dan selalu berpegang kepada petunjuk-petunjuk Allah.

Bahagia Dalam Keimanan (2)


إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah” kemudian mereka istiqomah pada pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.” (QS. Fushilat: 30).

Ayat di atas menceritakan bahwa orang yang istiqomah dan teguh di atas tauhid dan ketaatan, maka malaikat pun akan memberi kabar gembira padanya ketika maut menjemput. Mujahid, ‘Ikrimah, dan Zaid bin Aslam menafsirkan ayat tersebut: “Janganlah takut pada akhirat yang akan kalian hadapi dan janganlah bersedih dengan dunia yang kalian tinggalkan yaitu anak, keluarga, harta dan tanggungan utang. Karena para malaikat nanti yang akan mengurusnya.” Begitu pula mereka diberi kabar gembira berupa surga yang dijanjikan. Dia akan mendapat berbagai macam kebaikan dan terlepas dari berbagai macam kejelekan.

Kemudian, Dari Abu ‘Amr atau Abu ‘Amrah Sufyan bin Abdillah, beliau berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ajarkanlah kepadaku dalam (agama) islam ini ucapan (yang mencakup semua perkara islam sehingga) aku tidak (perlu lagi) bertanya tentang hal itu kepada orang lain setelahmu.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Katakanlah:

قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ فَاسْتَقِمْ
“Aku beriman kepada Allah, kemudian beristiqamahlah dalam ucapan itu.”
Berkaitan dengan hadits ini, Ibnu Rajab mengatakan, “Wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini sudah mencakup wasiat dalam agama ini seluruhnya.”

Bahagia Karena Istiqomah dalam Keimanan


إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.

أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.
( QS. al-Ahqaf ayat 13-14 )

Orang yang beriman kepada Allah subhanahu wata'ala kemudian dia beristiqomah dengan imananannya, yakni tidak dicampuri oleh kesyirikan sedikit pun, dia menetapi garis-garis syariat yang telah Allah subhanahu wata'ala tentukan, maka tidak ada rasa khawatir yang akan menjangkiti perasaan mereka. Mereka juga tidak merasa sedih karena keimanan itu telah menyepuh hati mereka dari segala gundah gulana.

Gangguan orang-orang yang tidak senang dengan keimannan mereka, tidak membuat mereka menjauh dari Allah subhanahu wata'ala. Justru mereka semakin dekat dengan Allah subhanahu wata'ala. Semakin berat ujian atau siksaan yang menimpa, maka semakin istiqomah mereka berada di jalan-Nya.

Mereka juga tidak merasa sedih dari apa yang hilang dari mereka. Karena mereka yakin bahwa penderitaan itu tidak ada apa-apanya dibanding balasan Allah subhanahu wata'ala di akhirat kelak.

Pandangan Ulama Tentang Istiqomah

Istiqomah adalah tegak berdiri di atas prinsip kebenaran yang diyakininya. Istiqamah merupakan sikap hidup yang mampu berdiri di atas prinsip tauhid dan mendorong dirinya untuk senantiasa konsisten dengan prinsip itu dalam kondisi dan situasi apapun.

Istiqomah dapat melekat dalam diri seorang muslim apabila ia telah benar-benar beriman dan seluruh hidupnya diabdikan untuk keimanan yang telah dia pegang. Sehingga menafikan segala sesuatu selain iman kepada Allah. Karena itu dapatlah dikatakan bahwa istiqomah merupakan implementasi dari keimanan kepada Allah yang melahirkan penyerahan diri secara total kepada-Nya. Dengan demikian apapun yang dihadapinya tidak akan merubah prinsip hidup itu

Kata "Istiqomah" secara bahasa berarti Tegak dan Lurus. Sedangkan secara Istilah, para salafus shalih memberikan beberapa definisi, diantaranya :

1. Abu Bakar Ash Shiddiq radhiallahu 'anhu :
"Hendaknya kamu tidak menyekutukan Allah dengan apapun juga".

2. Umar bin Khattab radhiallahu 'anhu :
 "Hendaknya kita bertahan dalam satu perintah atau larangan, tidak berpaling seperti berpalingnya seekor musang".

3. Utsman bin Affan radhiallahu 'anhu : "Istiqomah artinya ikhlas".

4. Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu:"Istiqomah adalah melaksanakan kewajiban".

5. Ibnu Abbas radhiallahu 'anhu:"Istiqomah mengandung 3 macam arti : Istiqomah dengan lisan (yaitu bertahan terus mengucapkan kalimat syahadat), istiqomah dengan hati (artinya terus melakukan niat yang jujur) dan istiqomah dengan jiwa (senantiasa melaksanakan ibadah dan ketaatan secara terus-menerus).

6. Ar Raaghib :"Tetap berada di atas jalan yang lurus".
7. Imam An Nawawi :"Tetap alam ketaatan". Sehingga Istiqomah mengandung pengertian : "tetap dalam ketaatan dan di atas jalan yang lurus dalam beribadah kepada Allah 'Azza wa Jalla".

8. Mujahid :“Istiqamah adalah komitmen terhadap syahadat tauhid sampai bertemu dengan Allah Taala”.

9. Ibnu Taimiah :“Mereka beristiqamah dalam mencintai dan beribadah kepada-Nya tanpa menoleh kiri kanan”.Dengan kata lain istiqomah mengandung suatu arti mendalam dalam beribadah kepada-Nya, mencintai sepenuh hati dalam mencari Ridha-Nya.

Mukmin itu Lebih Unggul



وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.
(QS. Ali Imran ayat 139)



Kenapa Harus Rendah Diri?

Betapa banyak kita melihat kaum muslimin yang rendah diri (inferior) di hadapan orang-orang kafir dengan segala kelebihan yang mereka miliki. Padahal jika mereka memahami hakikat yang sesungguhnya, justru umat muslim itu lebih utama dari orang kafir karena keimanan mereka.

Tapi begitulah kenyataannya, ada pelajar muslim yang study ke eropa atau ke amerika, mereka kagum dengan professor di sana dan mengamini semua yang diucapkan guru besar mereka. Menjadi pengekor semua pemikiran rancu. Mereka lebih bangga belajar islam kepada orang-orang kafir dibanding belajar islam kepada para ulama. Lihatlah hasilnya, lahir kader-kader sekuler nan liberal yang membeli kesenangan hidup dengan aqidah yang tidak ternilai harganya.

Kemudian mereka kembali ke berbagai penjuru negeri kaum muslimin dengan membawa paham-paham yang menyesatkan.

Kita lihat bagaimana segelintir kaum muslimin rela menggadaikan ideology dan prinsip hidupnya demi mendapat ridho orang-orang kafir. Kita juga bisa melihat bagaimana orang-orang yang mengaku mukmin tapi pesimis dengan masa depan, hanya karena melihat orang kafir yang selangkah lebih maju dari kaum beriman.  Kemudian mereka membuat satu kesimpulan kacau bahwa umat ini akan maju selama tidak konservatif dan jumud. Umat ini akan bertransformasi menjadi umat yang disegani jika mampu melepaskan diri dari ikatan-ikatan syariat yang mereka anggap ‘mengekang.’

Mereka berkesimpulan bahwa Eropa dan Amerika bisa maju dan berperadaban karena mereka telah mampu memisahkan urusan agama dengan kehidupan mereka.

Benarkah?

Memang sekilas syubhat yang dilontarkan Nampak benar adanya. Tapi sungguh sangat keliru. Bangsa barat maju bukan hanya karena factor menjauhnya mereka dari agama. Karena bagi kita tidak ada bedanya apakah mereka mendekat kepada agama atau menjauh dari agama, toh  itu tak ada bedanya. Karena aqidah mereka aqidah trinitas, bukan aqidah Tauhid yang telah menjamin kebahagiaan dunia akhirat.

Bangsa Barat bisa maju karena mereka memiliki system dan prilaku yang baik. Mereka memiliki tata kehidupan yang tertib dengan disiplin yang tinggi.

Berbeda dengan umat Islam yang saat ini cenderung meninggalkan aturan dan tata nilai dalam kehidupannya. Sehingga kita bisa melihat Negara-negara kafir lebih beradab dan bersih dibanding Negara-negara muslim.

Maka yang salah bukan islam, tapi kita yang telah mencampakan nilai-nilai dan keteraturan yang telah diajarkan islam. Benarlah apa yang dikatakan oleh Abul A’la al-Maududi. Al-islamu mahjubul bil muslim. Islam terhalang oleh kaum muslimin. Ya, kaum muslimin yang tidak mencerminkan dirinya sebagai seorang beriman.

Jangan salahkan islam, tapi salahkan diri kita yang tidak bisa memberi bukti bahwa umat islam itu umat yang beradab. Kita yang seharusnya bertanggung jawab ketika aturan-aturan dan akhlak islam dicampakan.

Jika seorang mukmin sudah menjalankan aturan islam dengan baik, maka dia akan menjadi manusia yang baik. Jika seorang mukmin yang belum menunjukan diri sebagai manusia yang baik, berarti dia belum memahami agamanya dengan baik. Sesederhana ini, sehingga tidak ada lagi yang berkoar-koar bahwa penyebab keterbelakangan umat islam karena mereka terlalu ‘konservatif’ terhadap ajaran agama.

Padahal jika kita telisik sejarah, justru orang-orang kafir  (baca: bangsa Eropa) itu berperadaban setelah berinteraksi dengan kaum mukminin di abad pertengahan.

Dalam sejarah Islam, kebudayaan dan pemikiran Muslim berkembang sangat baik di era kekhalifahan. Ilmuwan-ilmuwan Muslim lahir di masa Dinasti Ummayah dan Abbasyiah, lalu berlanjut hingga ke Kekhalifahan Utsmaniyah. Saat kekuasaan Islam menguasai Andalusia, misalnya, wilayah ini diubah jadi tempat paling maju dan paling berperadaban di daratan Eropa. Bahkan disebutkan bahwa cordoba sebagai kota metropolitan pertama di dunia. Dimana masa itu Eropa berada dalam masa kegelapan yang tidak mengenal peradaban.

Apakah ilmuwan Muslim itu mengabaikan agama? Tidak. Ilmuwan seperti Al-Biruni menelaah ayat-ayat al-Qur’an tentang alam semesta untuk menulis karya-karyanya. Demikian pula Ibnu Sina yang tak melepaskan dirinya dari al-Qur’an saat menulis kitab-kitab kesehatan serta beberapa karya di bidang astronomi dan astrologi. Sebutkan nama lebih banyak, dan mereka lahir di era di mana kekuasaan Islam tengah berjaya. Di masa ajaran al-Qur’an ditegakkan!

Jangan tanya soal toleransi di masa itu. Sejak era Rasulullah etika berperang kaum Muslim sudah digariskan. Salah satu larangannya adalah merusak rumah ibadah. Garis bawahi ini, dilarang merusak rumah ibadah. Tidak disebut apakah itu gereja, sinagog, atau kuil. Malah khalifah-khalifah Islam melindungi kaum Kristen, Yahudi, juga penganut paganisme yang berada di wilayah kekuasaannya.

Berkaca dari Kisah Rib’I bin Amr Ats-Tsaqafi radiyallahu anhu

Seharusnya kita tidak silau dengan apa pun yang kita lihat dan kita anggap sebagai ‘kelebihan’ dari orang-orang kafir. Karena semua kelebihan mereka itu tidak ada nilainya jika dibandingkan dengan keimanan yang ada di dada-dada kita.

Marilah kita simak sejenak kisah menakjubkan dari seorang sahabat bernama Rib’I bin Amr Ats-Tsaqafi radiyallahu anhu.

Sebelum terjadi peperangan Qadisiyah antara tentara Muslimin pimpinan Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu dengan tentara Persia pimpinan Rustam, Sa’ad terlebih dulu mengirim utusan kepada Rustam beberapa kali. Di antara utusan tersebut adalah Rib’i bin ‘Amir Ats-Tsaqafi radhiyallahu ‘anhu.

Maka Rib’i pun segera masuk menemui Rustam sementara mereka telah menghiasi pertemuan itu dengan bantal-bantal yang dirajut dengan benang emas, serta permadani-permadani yang terbuat dari sutera. Mereka mempertontonkan kepadanya berbagai macam perhiasan berupa yaqut, permata-permata yang mahal, dan perhiasan lain yang menyilaukan mata, sementara Rustam memakai mahkota dan sedang duduk di atas ranjang yang terbut dari emas.

Berbeda keadaannya dengan Rib’i. Beliau masuk dengan hanya mengenakan baju yang sangat sederhana, dengan pedang, perisai, dan kuda yang pendek. Rib’i masih tetap di atas kudanya hingga menginjak ujung permadani. Kemudian beliau turun serta mengikatkan kuda tersebut di sebagian bantal-bantal yang terhampar. Setelah itu beliau langsung masuk dengan senjata, baju besi, dan penutup kepalanya.

Mereka berkata,”Letakkan senjatamu!”

Rib’I menjawab,”Aku tidak pernah berniat mendatangi kalian tetapi kalianlah yang mengundangku datang kemari. Jika kalian memerlukanku maka biarkan aku masuk dalam keadaan seperti ini. Jika tidak kalian izinkan, maka aku akan segera kembali.”

Rustam berkata,”Biarkan dia masuk.”

Maka Rib’i datang sambil bertongkat dengan tombaknya dalam keadaan posisi ujung tombak ke bawah sehingga bantal-bantal yang dilewatinya penuh dengan lubang-lubang bekas tombaknya.

Mereka bertanya bertanya kepada Rib’i,”Apa yang membuat kalian datang ke sini?”

Beliau menjawab  dengan kepercayaan diri yang begitu purna,

“Allah telah mengutus kami untuk mengeluarkan siapa saja yang Dia kehendaki dari penghambaan terhadap sesama hamba kepada penghambaan kepada Allah, dari kesempitan dunia kepada keluasannya, dari kezhaliman agama-agama kepada keadilan Al-Islam. Maka Dia mengutus kami dengan agama-Nya untuk kami seru mereka kepadanya. Maka barangsiapa yang menerima hal tersebut, kami akan menerimanya dan pulang meninggalkannya. Tetapi barangsiapa yang enggan, kami akan memeranginya selama-lamanya hingga kami berhasil memperoleh apa yang dijanjikan Allah”

Mereka bertanya,”Apa yang dijanjikan Allah (kepada kalian)?”

Beliau menjawab,”Surga bagi siapa saja yang mati dalam memerangi orang-orang yang enggan dan kemenangan bagi yang hidup.”

Rustam pun berkata,” Sungguh aku telah mendengar perkataan-perkataan kalian. Tetapi maukah kalian memberi tangguh perkara ini sehingga kami mempetimbangkannya dan kalian pun mempertimbangkannya?”

Beliau menjawab,”Ya, berapa lama waktu yang kalian sukai? sehari atau dua hari?”

Rustam menjawab,”Tidak, tetapi hingga kami menulis surat kepada para petinggi kami dan para pemimpin kaum kami.”

Maka beliau pun menjawab,”Rasul kami tidak pernah mengajarkan kepada kami untuk menangguhkan peperangan semenjak bertemu musuh lebih dari tiga (hari). Maka pertimbangkanlah perkaramu dan mereka, dan pilihlah satu dari tiga pilihan apabila masa penangguhan telah berakhir.”

Rustam bertanya,”Apakah kamu pemimpin mereka?”

Beliau menjawab,”Tidak, tetapi kaum muslimin ibarat jasad yang satu. Yang paling rendah dari mereka dapat memberikan jaminan keamanan terhadap yang paling tinggi.”

Maka (akhirnya) Rustam mengumpulkan para petinggi kaumnya kemudian berkata,”Pernahkah kalian melihat (walau sekali) yang lebih mulia dan lebih benar dari perkataan lelaki ini?”

Mereka menjawab,”Kami minta perlindungan dari Tuhan supaya engkau tidak terpengaruh ajakan ini dan dari menyeru agamamu kepada agama anjing ini. Tidakkah engkau melihat pakaian yang dia pakai?”

Rustam menjawab,”Celaka kalian! Janganlah kalian melihat kepada pakaian. Akan tetapi lihatlah kepada pendapat, perkataan, dan jalan hidupnya! Sesungguhnya orang ‘Arab menganggap ringan masalah pakaian dan makanan. Tetapi mereka menjaga harga diri mereka.”

Subhanallah, lihatlah bagaimana sikap Rib’i bin Amir ats-Tsaqafi radiyallahu anhu di hadapan Rustam dan para pembantunya yang gemerlap dengan kemewahan yang mereka pamerkan. Sungguh naif jika ada kaum mukmin zaman sekarang yang begitu silau dengan kekayaan dan kejayaan orang kafir. Jika rasa rendah diri ini menguasai relung hati, maka bisa saja kita menjadi ummat yang bermental budak. Hidup di bawah ketiak orang-orang kafir yang memaksakan undang-undang dan keinginan mereka. Sehingga kita hidup di bawah baying-bayang mereka.

Kemudian mereka menjajah ideology dan ekonomi kita dan kita dijadikan anjing-anjing peliharaan untuk membasmi saudara seiman yang masih teguh memegang harga diri. Naudzubillah

Unggul Karena Iman

Kita sebagai mukmin bisa unggul dari umat-umat yang lain selama kita memegang teguh keimanan dan ideology kita yang hanif. Kita akan mengalahkan orang-orang kafir selama kita komit dengan tata kehidupan yang islami. Karena dengan berimannya kita, maka kita akan mendapatkan ridho Allah subhanahu wata'ala. Dengan berimannya kita, maka Allah subhanahu wata'ala akan memenangkan kita diantara ummat-ummat yang lainnya. Dan ini adalah janji Allah subhanahu wata'ala di dalam ayat ini.

Boleh jadi keterpurukan umat islam dewasa ini adalah karena jauhnya mereka dari system hidup yang islami. Muslim yang jauh dari al-quran dan sunnah (tidak mengamalkan hukum-hukumnya dan lebih memilih hukum buatan manusia), maka Allah akan menjauhkan mereka dari kemuliaan. Kita tak ubahnya seperti bangsa pengemis diantara umat-umat kafir.

Umar bin Khattab radiyallahu anhu pernah menulis sebuah surat berisi pesan untuk Sa’ad bin Abi Waqash ra. beserta pasukannya yang sedang pergi memerangi Persia di daerah Qadisiyah. Pesan ini bukan tentang strategi dan taktik perang, tapi tentang menjauhi kemaksiatan. Umar radiyallahu anhu menyatakan bahwa menjauhi kemaksiatan adalah kunci turunnya kemenangan dari Allah subhanahu wata'ala

Begini isi dari surat beliau:

“Amma Ba’du. Aku memerintahkanmu dan seluruh anggota pasukan untuk bertakwa kepada Allah subhanahu wata'ala dalam setiap keadaan. Karena takwa kepada Allah subhanahu wata'ala  adalah senjata yang paling kuat dan strategi yang paling jitu untuk mengalahkan musuhmu.
Aku memerintahkanmu dan seluruh anggota pasukanmu untuk berhati-hati terhadap perbuatan maksiat, lebih dari hati-hati kalian terhadap musuhmu. Karena maksiat yang kalian perbuat lebih aku khawatirkan daripada kekuatan pasukan musuh.
Allah subhanahu wata'ala  memberikan kemenangan kepada pasukan Islam disebabkan musuh-musuhnya yang berbuat kemaksiatan. Kalau bukan karena itu, niscaya pasukan Islam tidak akan berdaya menghadapi pasukan musuh. Karena jumlah pasukan Islam tak seberapa dibanding jumlah pasukan musuh; persenjataan pasukan Islam pun tak ada apa-apanya dibandingkan persenjataan musuh. Sehingga seandainya pasukan Islam dan pasukan musuh sama-sama berbuat maksiat, maka pasukan musuh akan menang karena mereka lebih kuat dari segi jumlah dan senjata. Jika pasukan Islam tidak berbuat maksiat, maka pasukan Islam akan menang, karena keshalihan mereka, bukan karena kekuatan mereka.
Kemudian ketahuilah, selama perjalanan kalian, Allah subhanahu wata'ala mengirim para malaikat yang akan mengawasi. Mereka mengetahui apa yang kalian lakukan. Maka teruslah merasa malu kepada mereka. Janganlah kalian bermaksiat kepada Allah subhanahu wata'ala ,padahal kalian sedang berada dalam jalan-Nya.
Janganlah kalian berkata bahwa kalian pasti akan menang karena musuh-musuh pasti lebih buruk dari kalian, sehingga mereka tidak akan mungkin menguasai kalian. Karena sangat mungkin sebuah kaum dikuasai oleh kaum yang buruk. Seperti Bani Israel yang dikuasai oleh kaum Majusi. Bisa demikian karena karena Bani Israel telah melakukan hal-hal yang membuat Allah subhanahu wata'ala  murka. 
Mohonlah kepada Allah subhanahu wata'ala  agar menolong kalian melawan jiwa kalian, sama seperti kalian memohon pertolongan dalam melawan musuh-musuh kalian. Aku juga memohon hal itu untukku dan untuk kalian.”

Nah, jelaslah bagi kita bahwa kunci kemenangan, kebahagiaan, kekuatan, kejayaan dan kemuliaan adalah dengan kembali kepada al-quran dan sunnah, menjauhi maksiat yang mendatangkan murka-Nya dan tentu saja jihad dengan semua kemampuan dan sarana yang dikerahkan. Karena jelaslah bagi kita, bahwa Allah subhanahu wata'ala melarang kita dari sikap lemah dan sedih hati. Karena keimanan akan selalu berjalan seiring dengan kejayaan.

Perubahan dari Dalam Diri


إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS.ar-Ra’d:11)
---
Salah satu Sunnatullah yang berjalan dibumi ini adalah Allah tidak akan merubah kondisi seseorang, kelompok ataupun masyarakat sebelum ada perubahan dari diri mereka. Tidak akan ada yang berubah selama tidak ada niatan dari dalam.

Perubahan kawan, pemimpin, presiden ataupun lingkungan tidak akan bisa merubah seseorang jika tidak ada niatan dari dirinya sendiri. Seperti kata-kata Nabi Musa as ketika berdakwah kepada Fir’aun,

فَقُلْ هَل لَّكَ إِلَى أَن تَزَكَّى

Maka katakanlah (kepada Fir‘aun), “Adakah keinginanmu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)?” (QS.an-Nazi’at:18)

Nabi Musa menawarkan kepada Fir’aun untuk berubah dan mensucikan diri. Karena sebesar apapun usaha Musa tidak akan bisa merubah Fir’aun jika tidak ada keinginan dari dirinya.

Perubahan dari dalam itu bisa kita analogikan dengan sebuah telur. Pecahnya telur karena tekanan dari dalam adalah pertanda awal dari kehidupan. Sementara pecahnya telur karena tekanan dari luar adalah awal dari kematian.

Imam Ja’far As-Shodiq, Guru dari Imam Madzhab Maliki dan Hanafi pernah berkata,
“Tubuh seseorang tidak akan lemah jika ia memiliki niat yang kuat.”

Jika kita mendambakan perubahan. Mulailah dari dalam diri masing-masing. Karena sudah menjadi Sunnatullah bahwa Allah tidak akan merubah apapun selama tidak ada perubahan dari dalam diri kita.

Jika sudah ada keinginan dan usaha untuk berubah, maka Janji Allah untuk memberi bantuan dan kemudahan akan segera datang.

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan Tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah bersama orang-orang yang berbuat baik.” (QS.al-Ankabut:69)

Mari kita niatkan diri untuk berubah menjadi lebih baik, karena disitulah Allah akan memberikan bermacam bimbingan dan kemudahan.


Syukurmu, Untuk Kemaslahatanmu


وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ
Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, "Bersyukurlah kepada Allah! Dan barang siapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.”
(QS. Lukman ayat 12)

Ibnu Katsir berkata di dalam kitab tafsirnya, "Sesungguhnya manfaat dan pahala dari bersyukur itu kembali kepada para pelakunya, karena Firman Allah Ta'ala yang menyembutkan di dalam Quran surat ar-Rum ayat 44,

"Dan barangsiapa yang beramal sholeh, maka untuk diri mereka sendirilah mereka menyiapkan (tempat yang menyenangkan)."

Bukan berarti Allah sangat bergantung terhadap rasa syukur hamba-Nya. Allah Maha Kaya dan tidak membutuhkan hamba-hamba-Nya. Dia tidak kekurangan apa pun jika kita tidak bersyukur. Maka Ibnu Katsir berkomentar terhadap penggalan ayat terakhir dari surat ini;" Seandainya semua penduduk bumi ingkar kepada nikmat-Nya, maka sesungguhnya Dia Maha Kaya." Artinya, rasa syukur kita tidak memberi pengaruh apa-apa terhadap Allah, tidak bersyukurnya seorang hamba tidak mengurangi keagungan Allah sebagai Rabb. Karena sejatinya, rasa syukur itu sendiri justru untuk kemaslahatan kita sebagai hamba.

Berkaitan dengan syukur marilah kita belajar dari kisah tiga lelaki Israel yang diuji oleh Allah Subhanahu wata’ala. Dimana Allah memberikan anugerah yang tidak terkira bagi orang yang bersyukur di tengah ujian yang mendera.

Kisah yang dikutip oleh Imam bukhori dan Imam Muslim ini adalah kisah yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra.

Rasulullah bersabda;

“Sesungguhnya ada tiga orang dari Bani Israil, yaitu: penderita penyakit lepra, orang berkepala botak dan orang buta. Kemudian Allah Ta’ala ingin menguji mereka bertiga, maka diutuslah kepada mereka seorang malaikat.

Maka datanglah malaikat itu kepada orang pertama yang menderita penyakit lepra dan bertanya kepadanya: “Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?” Ia menjawab: “Rupa yang bagus, kulit yang indah, dan penyakit yang menjijikkan banyak orang ini hilang dari diriku”.

Maka diusaplah orang tersebut, dan hilanglah penyakit itu, serta diberilah ia rupa yang bagus, kulit yang indah.  Malaikat itu bertanya lagi kepadanya: “Lalu kekayaan apa yang paling kamu senangi?” Ia menjawab: “Unta atau sapi.” Maka diberilah ia seekor unta yang sedang bunting, dan iapun didoakan: “Semoga Allah melimpahkan berkah-Nya kepadamu dengan unta ini.”

Kemudian Malaikat tadi mendatangi orang kepalanya botak, dan bertanya kepadanya: “Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?” Ia menjawab: “Rambut yang indah, dan apa yang menjijikkan banyak orang ini hilang dari diriku.”

Maka diusaplah kepalanya, dan seketika itu hilanglah penyakitnya, serta diberilah ia rambut yang indah. Malaikat tadi bertanya lagi kepadanya: “Harta apakah yang kamu senangi?” Ia menjawab: “Sapi atau unta.” Maka diberilah ia seekor sapi yang sedang bunting dan didoakan: “Semoga Allah memberkahimu dengan sapi ini.”

Kemudian malaikat tadi mendatangi orang yang buta, dan bertanya kepadanya: “Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?” Ia menjawab: “Semoga Allah berkenan mengembalikan penglihatanku sehingga aku dapat melihat orang.” Maka diusaplah wajahnya, dan seketika itu dikembalikan oleh Allah penglihatannya. Malaikat itu bertanya lagi kepadanya: “Harta apakah yang paling kamu senangi?” Ia menjawab: “Kambing.” Maka diberilah ia seekor kambing yang sedang bunting.

Lalu berkembangbiaklah unta, sapi dan kambing tersebut, sehingga yang pertama memiliki satu lembah unta, yang kedua memiliki satu lembah sapi, dan yang ketiga memiliki satu lembah kambing.

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selanjutnya:

Kemudian, datanglah Malaikat itu kepada orang  yang sebelumnya menderita penyakit lepra, dengan menyerupai dirinya (yakni di saat ia masih dalam keadaan berpenyakit lepra), dan berkata kepadanya: “Aku seorang miskin, telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rizki) dalam perjalananku ini, sehingga tidak akan dapat meneruskan perjalananku hari ini kecuali dengan pertolongan Allah, kemudian dengan pertolongan anda. Demi Allah yang telah memberi anda rupa yang tampan, kulit yang indah, dan kekayaan ini, aku minta kepada anda satu ekor unta saja untuk bekal meneruskan perjalananku.”

Tetapi dijawab: “Hak-hak (tanggunganku) masih banyak.”

Malaikat tadi berkata kepadanya: “Sepertinya aku pernah mengenal anda, bukankah anda ini dulu orang yang menderita penyakit lepra, yang orang-orang pun jijik melihat anda, lagi pula anda miskin, kemudian Allah memberikan kepada anda harta kekayaan?” Dia malah menjawab: “Harta kekayaan ini aku warisi turun-temurun dari nenek moyangku yang mulia lagi terhormat.”

Maka  malaikat tadi berkata kepadanya: “Jika anda berkata dusta niscaya Allah akan mengembalikan anda kepada keadaan anda semula.”

Kemudian malaikat tadi mendatangi orang yang sebelumnya berkepala botak, dengan menyerupai dirinya (disaat masih botak), dan berkata kepadanya sebagaimana ia berkata kepada orang yang pernah menderita penyakit lepra, serta ditolaknya sebagaimana ia telah ditolak oleh orang yang pertama. Maka malaikat itu berkata: “Jika anda berkata dusta niscaya Allah akan mengembalikan anda seperti keadaan semula.”


Kemudian malaikat tadi mendatangi orang yang sebelumnya buta, dengan menyerupai keadaannya dulu (di saat ia masih buta), dan berkata kepadanya: “Aku adalah orang yang miskin, kehabisan bekal dalam perjalanan, dan telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rizki) dalam perjalananku ini, sehingga aku tidak dapat lagi meneruskan perjalananku hari ini, kecuali dengan pertolongan Allah kemudian pertolongan anda. Demi Allah yang telah mengembalikan penglihatan anda, aku minta seekor kambing saja untuk bekal melanjutkan perjalananku.” 

Maka orang itu menjawab: “Sungguh aku dulunya buta, lalu Allah mengembalikan penglihatanku. Maka ambillah apa yang anda sukai, dan tinggalkan apa yang tidak anda sukai. Demi Allah, sekarang ini aku tidak akan mempersulit anda dengan memintamu mengembalikan sesuatu yang telah anda ambil karena Allah.” Maka malaikat tadi berkata: “Peganglah kekayaan anda, karena sesungguhnya kalian ini hanya diuji oleh Allah. Allah telah ridha kepada anda, dan murka kepada kedua teman anda.”